Debat atau Dialog?

Di dunia ini, begitu banyak perbedaan. Bahkan, sebenarnya tak ada yang sama selain pola-pola yang diserupakan untuk dipetakan. Tidak ada satu pun entitas di alam raya ini yang persis sama seratus persen. Bahkan kembar identik pun tak sama.

Maka, sebenarnya sangat wajar kalau kita berbeda. Apalagi kalau sekedar pendapat. Walau kita sangat yakin pendapat kita benar, namun jelas tidak 100 %. Prinsipnya sederhana, pendapat kita bisa jadi benar, tapi masih ada kemungkinan kesalahan di dalamnya. Sebaliknya pendapat orang lain mungkin saja salah, tapi bisa saja ada nilai kebenaran dalam elemennya.

Untuk menjembataninya, diperlukan komunikasi yang baik. Apalagi kalau hendak merumuskan suatu kebijakan atau keputusan. Maka, timbul pertanyaan, yang diperlukan debat atau dialog?

Debat adalah pertandingan. Di sini pihak yang terlibat debat ingin menang dengan mengalahkan pihak lain. Kalau perlu, dengan segala cara. Argumentasi disiapkan untuk mematahkan argumentasi lawan. Sewaktu saya mengamati proses debat akademis antara lain yang dilakukan oleh English Debating Society Universitas Indonesia, ada kemampuan untuk menalar secara logis dengan baik. Namun, lebih dari itu, ada aturan. Dengan aturan itu, pihak yang kalah akan fair menerima kekalahan. Tapi tanpa ini, yang ada cuma kegusaran dan rasa “tidak terima” apabila kalah atau terdesa. Contoh paling saya ingat adalah ketika Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Kabinet Gotong-Royong-nya Presiden Megawati, Jacob Nuwawea menggebrak podium dan meninggalkan live talkshow di sebuah stasiun televisi swasta dengan marah. Beliau saat itu merasa terdesak dalam perdebatan yang dilangsungkan.

Itulah salah satu akibat debat. Pihak yang merasa kalah atau terdesak akan gusar atau merasa dipermalukan. Karena itu, dialog lebih baik. Kenapa? Karena dalam dialog yang dicari bukan kemenangan, melainkan titik temu. Sehingga hasil akhirnya akan memuaskan semua pihak atau win-win solution. Tidak ada pihak yang mendapatkan 100 % kemenangan sementara pihak lainnya total loss. Kalau ada dua pihak terlibat, masing-masing pihak mundur 50 % dari keinginan atau tuntutannya. Dengan demikian solusinya kira-kira adalah 50 % keinginan pihak pertama dan 50 % keinginan pihak kedua, meski tentu prosentasenya bisa berbeda tergantung negosiasi di lapangan.

Dalam konteks perundingan bilateral antar-negara atau antara pemerintah pusat dengan daerah, saya melihat pemerintah masih cenderung pada debat. Akibatnya, kita lebih sering kalah. Misalnya dalam kasus Sipadan-Ligitan. Bukankah andaikata kita menawarkan untuk pengelolaan bersama dua pulau kecil itu Malaysia dan Indonesia sama-sama untung? Kita tidak kehilangan kedaulatan, sedangkan Malaysia diberikan prosentase lebih besar dari pengelolaan pulau karena memang mereka sudah membangun resort di sana.

Demikian pula dalam konteks penanganan konflik di masyarakat, itu karena tidak ada win-win solution. Dalam kasus Pilkada misalnya, alangkah eloknya bila calon terpilih segera menemui koleganya yang kalah dan menawarinya bergabung di struktur pemerintahannya berikutnya. Hal ini akan menenangkan para pendukungnya agar tidak mengamuk.

Seyogyanya, setiap perbedaan disikapi sebagai rahmat. Pelangi tampak indah justru karena ia beraneka warna bukan? Demikian pula taman bunga. Dan kita harus sadar, bahwa prinsip negara kita adalah “Bhinneka Tunggal Ika”: berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

One response to “Debat atau Dialog?

  1. Ping-balik: Wawasan dan Agama | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s