Bom di Boston dan Tasripin

Kemarin, dunia dikejutkan dengan meledaknya bom di Boston-Amerika Serikat, saat berlangsungnya lomba lari marathon di sana. Siapa pun pelakunya, apa pun motivasinya, itu sudah pasti perbuatan orang-orang biadab tak bertanggung-jawab. Bahkan dalam konteks menjaga perasaan para korban dan pihak minoritas di Amerika Serikat, kali ini Presiden A.S. tidak buru-buru mengeluarkan pernyataan yang menuduh “teroris” sebagai pihak pelakunya. Karena di sana, kata ini identik dengan Al-Qaeda dan Islam. Bahkan ketika sore harinya atas nasehat FBI Obama mengeluarkan pernyataan, tetap penuh kehati-hatian dan bijak.

Walau jauh di belahan dunia lain, kita di sini tentu ikut berduka pada derita para korban. Apalagi ada anak kecil bernama Martin Richard yang baru berusia 8 tahun turut pula menjadi korban tewas.

Di Indonesia, walau bukan karena bom, sebenarnya tiap hari banyak anak kecil yang menderita. Salah satunya yang sedang heboh di media massa adalah Tasripin.

Berita mengenai bocah berusia 12 tahun yang terpaksa bekerja keras menghidupi ketiga adiknya itu pertama kali muncul di Kompas, baik cetak maupun online (versi online bisa dibaca di tautan ini). Karena dimuat di halaman pertama media massa cetak bertiras terbesar di Indonesia, efek pemberitaannya seperti bola salju. Apalagi ditambah masyarakat Indonesia yang banyak aktif di social media membuat kabar ini meluas dengan cepat. Karena baru saja memiliki account Twitter baru, Presiden SBY pun bereaksi. Setelah sempat mengirim cuitan simpati kepada Obama, beliau pun menyatakan telah memerintahkan staf khususnya untuk membantu Tasripin.

Sirkus pun tercipta. Mungkin tak seheboh Ponari, bocah sakti yang konon bisa menyembuhkan aneka penyakit cuma dengan mencelupkan batu, tapi saya yakin Tasripin pun akan dikunjungi banyak orang terutama pejabat. Tapi saya tahu, dari klaim di account Twitter-nya, sebelum para pejabat sampai, sebuah gerakan sosial yang dimotori pengusaha asal Yogya sudah lebih dulu bergerak ke rumah Tasripin. Dan saya tahu dia tidak cuma “omdo”.

Saya sendiri sering merasa “omdo” semata karena belum memiliki kemampuan membantu orang-orang seperti Tasripin. Tapi biarlah amal-kebajikan saya Tuhan yang tahu. Setidaknya saya tak pernah berdiri di hadapan umum berkhotbah menyeru kebajikan sementara saya sendiri tidak melaksanakannya. Apa yang saya bagikan kepada orang lain insya Allah juga sudah saya lakukan. Makanya, hingga kini pun saya tak berani bahkan sekedar menyeru atau mengajak orang lain melakukan ibadah rutin seperti shalat. Karena saya sendiri juga tidak sebaik itu shalatnya. Dalam tulisan di blog ini pun saya sering menyebut diri “bajingan” karena saya memang bukan orang suci (dan semoga tidak sok suci). Apalagi setelah dua hari lalu bertemu Pak David yang notabene bukan Muslim, tapi dalam beberapa aspek ia malah lebih “Islami” daripada saya. Semoga Tuhan selalu menutupkan kain gombal bernama malu kepada saya (dan semoga juga Anda) dan bukannya jubah mewah kesombongan. Aamiin.

Catatan: Maaf saya belum bisa memenuhi janji memposting artikel tentang Pak David di http://lifeschool-indonesia.com karena setelah diserang hacker beberapa waktu lalu saya malah tidak bisa login. Jadi saya harus bongkar ulang situsnya. Maaf.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s