Belajar dari Pendekar Bodoh

Hari ini, saya bertemu dengan salah satu tokoh “dunia persilatan”. Ibaratnya, kalau saya masih ban putih (pemula paling dasar), beliau ini sebenarnya sudah ban hitam (paling tinggi). Tapi, sehari-hari beliau yang sudah tinggi ilmunya ini malah memilih menyebut dirinya “Pendekar Bodoh”. Kenapa? Alasannya tunggu tulisan lebih lengkap di situs http://lifeschool-indonesia.com besok ya…

David D'Cost & Bhayu

Ya, si “pendekar bodoh” itu adalah David Marsudi, pemilik jaringan restoran D’Cost. Bagi Anda yang cukup “gaul”, tentu tahu ini adalah rumah makan hidangan laut (seafood restaurant) yang mengusung konsep “mutu bintang lima, harga kaki lima”. Restoran ini berkembang begitu pesat hingga kini sudah memiliki 44 cabang di seluruh Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah harganya yang memang lebih murah dibandingkan restoran sejenis. D’Cost mampu membuat hidangan laut yang dikenal mahal menjadi lebih terjangkau oleh lebih banyak golongan masyarakat.

Acara ini sendiri diadakan dalam rangka persiapan menuju Indonesia Brand Forum yang digagas oleh pakar pemasaran Yuswohady. Dalam kesempatan langka tersebut, hanya ada 30 orang yang diberikan kesempatan bertamu ke D’Cost VIP. Ini adalah diversifikasi D’Cost untuk kalangan atas yang baru dibuka di jalan Abdul Muis-Jakarta Pusat. Menu yang disajikan kepada 30 orang tamu terpilih ini memang sangat luar biasa dan tidak tanggung-tanggung. Salah satu di antaranya adalah lobster! Wow! Menu yang kalau di hotel bintang lima paling murah berharga 500 ribuan ini di D’Cost VIP hanya dihargai 200 ribuan saja!

Namun, di luar menu “uenak tuenan” yang disajikan –saking banyaknya kami sampai tidak habis-, justru yang lebih “luegit” adalah penuturan dari pemiliknya sendiri. Bagaimana ia mampu menjadikan D’Cost yang pertama kali dibangun di kawasan Kemang tahun 2006 kini jadi merek rumah makan yang dikenal luas. Ini terutama karena kepandaiannya membaca pasar konsumen Indonesia yang masih sensitif harga. Tak heran, dalam waktu relatif singkat, nama D’Cost telah melekat di benak penggemar kuliner Indonesia. Ini antara lain juga dibuktikan dengan telah diraihnya aneka penghargaan seperti Top Brand Award selama 3 tahun berturut-turut.

David menceritakan “kenekatannya” untuk “bocuan gapapa” alias tidak untung tidak apa-apa. Percaya atau tidak, ini juga nama perusahaannya yang lain sebagai ekstensifikasi dari D’Cost. Di sini, David menuturkan ia lebih menggunakan intuisi daripada perhitungan rumit saat membangun bisnisnya. Bahkan, sebagai “arek Suroboyo”, ia bisa dibilang “bonek” alias bondo nekat (modal nekat).

Cukup banyak yang saya dapat dari beberapa jam bersama beliau. Intinya adalah, kalau membangun bisnis jangan tanggung-tanggung. Di samping itu, justru dengan memberi banyak kita akan dipelihara Tuhan dan mendapatkan lebih banyak lagi. Analisa lengkap dari segi pemasaran juga akan saya turunkan di situs pribadi http://bhayumahendra.com beberapa hari lagi. Rajin-rajin ngecek ya kalau nggak mau K.O.

Ciaaat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s