Ujian Hidup

Sore ini, kembali Tuhan menunjukkan “kasih-sayang”-nya kepada saya. Saat dihadapkan pada pertanyaan: “Seberapa berat cobaan hidup Anda?” Cobalah bandingkan dengan orang ini.

Dia gelandangan tidak punya rumah. Tidak punya keluarga-kenalan-sanak saudara yang bisa dimintai tolong. Dia hidup sebatang kara. Sudah begitu, dia punya penyakit ginjal yang sering menyebabkan bengkak anggota tubuhnya, terutama tangan dan kakinya. Penghasilannya? Tak tentu. Tapi paling sering cuma 5 ribu sehari. Padahal, seharusnya penyakit ginjalnya diobati dengan biaya jutaan.

Sudah?

Anda masih merasa orang paling menderita? Itu yang ditanyakan Tuhan kepada saya.

Dan saya pun tak kuasa menjawab, cuma bisa menangis malu.  Saya mohon ampun kepada Tuhan karena telah membesar-besarkan masalah saya.

Sore ini, saya melakukan satu hal yang rasanya tak dilakukan kebanyakan orang. Sederhana saja, saya mengajak orang yang saya sebutkan di alinea pertama tadi untuk mengobrol. Kebetulan, cuaca hujan saat saya keluar dari warnet langganan saya. Dan tak dinyana, orang tadi berteduh di depan warnet.

Sudah lama saya penasaran dengannya. Karena selama sekitar dua tahun belakangan, saya lihat dia selalu ada di depan warnet langganan saya. Tadinya, saya kira dia gila. Tapi beberapa kali dia saya lihat mengakses internet. Berarti, dia tidak gila. Tapi yang jelas dia gelandangan karena selalu saya lihat siang-malam di pinggir jalan.

Nah, sore ini rasa penasaran saya terjawab. Saya bertanya padanya siapa dia dan apa pekerjaannya. Mengagetkannya, ia menjawab saya dengan bahasa Inggris yang sangat fasih bak native speaker. Sontak saya terkejut. Apalagi ini Tuhan? Gembel pinter?

Ternyata benar. Ia mengalami musibah dalam hidupnya hingga harus tinggal di jalanan. Padahal, ia adalah keturunan Amerika-Yahudi-Turki dari pihak ayah dan ibu orang Surabaya. Walau ia mengaku beragama Islam. Pantas saja bahasa Inggrisnya cas-cis-cus. Bahkan, ia pernah bekerja freelance di stasiun televisi. Dia juga tidak meminta-minta, melainkan berupaya bekerja dengan keahliannya menulis. Menurutnya, ia sedang mengikuti beberapa lomba penulisan di internet.

Mengobrol sekitar setengah jam membuat saya tak tahan. Malu. Untung waktu Maghrib tiba sehingga saya bisa segera menghadap-Nya. Minta ampun. Minta maaf. Merasa bodoh, tolol dan cengeng. Saya juga minta maaf pada wanita itu karena sempat mengira dia gila dan meremehkannya.

Ada satu hal yang saya teladani dari gelandangan itu: dia berdiri tegak menghadapi hidup karena yakin pada kasih sayang ALLAH. Dia yakin Tuhan akan menolongnya. Padahal, ujian hidup yang dihadapinya seribu kali lebih dahsyat daripada saya. Astaghfirullahaladhiim.

Catatan: Di daerah Kober-Depok, ada warnet bernama Roxy.net. Di depannya sering duduk seorang wanita berkulit gelap dengan tinggi sekitar 140 cm bertubuh agak gemuk. Dialah orang yang saya ceritakan dalam artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s