Soliter

Ada sapaan dari LifeLearner (sayang identitasnya tidak jelas karena menggunakan nickname) yang menanyakan soal pernyataan saya “tidak punya teman”. Actually, I inspired by Deddy Corbuzier statement on his divorce press statement with Kalina. Siapa sih yang percaya orang seperti Deddy Corbuzier tidak punya teman? Tapi begitulah pernyataannya di televisi!

Saya juga begitu.

Sekarang, definisi teman itu apa sih?

Kalau bagi saya (ini subyektif lho, Anda boleh tidak setuju dan saya tidak mau berdebat soal ini), itu adalah genus yang masih harus dipecah ke dalam species. Dalam kategori teman, belakangnya harus ditambahi imbuhan: “sekolah”, “kuliah”, “kantor”, “sekampung”, atau lainnya. Kalau ditambahi species, jelas saya punya teman kuliah, teman sekolah, teman main, dsb. Tapi pengertian “teman” sebagai genus bagi saya adalah mereka yang bisa dengan mudah tiap hari ditemui. Nah, di situ saya punya perbedaan dengan orang lain. Saya bertemu dengan banyak orang, tapi hampir tidak ada yang sama tiap hari. Saat saya berkantor sebagai pegawai biasa di kantor orang lain pun, saya memilih tidak berteman dengan teman kantor saya. Sementara di kantor saya sendiri saya hanya punya pegawai dan partner bisnis. Arti “teman” lebih jauh adalah mereka yang kepadanya Anda bisa santai mengungkapkan hidup Anda, tapi tidak “stand-by” setiap saat seperti sahabat.

Saya tidak mudah membiarkan orang masuk ke kehidupan pribadi saya. Tidak ada teman kantor yang pernah saya ajak ke rumah misalnya. Ini berbeda dengan saya yang malah santai pergi ke rumah teman yang mengundang.

Jangan salah lho. Saya mudah berteman. Kalau Anda bertemu saya langsung, Anda akan lihat saya orang yang ramah dan terbuka. Saya mudah berkenalan dan membuka percakapan. Misalnya di suatu forum atau seminar. Bahkan beberapa orang wanita yang kemudian sempat jadi pacar saya pun -termasuk yang warga negara asing- saya kenal di acara terbuka seperti itu. Saya cuma mengajaknya ngobrol beberapa saat, dapat nomor teleponnya dan saya ajak jalan. That’s it.

Tidak ada yang salah dengan ini. Karena kalau Anda pernah belajar psikologi, ada kepribadian yang disebut “introvert”. Itulah saya. Saya cenderung soliter, nyaman dengan diri sendiri dan kesendirian. Menurut Myers-Brigg Type Indicator (MBTI), kepribadian “I” ini mendapatkan “charge” kembali dari lelahnya hidup justru dengan menyendiri. Ini terbalik dengan “extrovert” yang senang berkumpul dengan teman-teman. Pribadi “E” ini senang berbagi dan bercerita kepada orang lain, termasuk yang baru dikenalnya. Bahkan kalau tingkat “E”-nya tinggi, dalam 5 menit saya bisa mengorek kehidupan pribadinya. Misalnya cerita soal anak, sekolah, pekerjaan dan curhat keluhan-keluhannya.

Jadi, mungkin itulah yang bisa saya jelaskan dengan pernyataan “tidak punya teman”. Karena saya tidak mudah membiarkan orang masuk ke kehidupan pribadi saya. Tapi, saya punya jejaring (network), tautan (link), kolega, partner bisnis dan kenalan yang tentu saja banyak. Sebagai bukti, saya punya lebih dari 1.000 kartu nama orang yang pernah saya temui di berbagai kesempatan. Got it?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s