Menjadikan Diri Sendiri Teladan

Itulah judul tulisan Dinna Wisnu, Ph.D. di Koran Sindo edisi hari ini. Beliau adalah Co-Founder & Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi Universitas Paramadina. Sebagai ahli hubungan internasional, konteks tulisannya adalah relasi antar negara. Artinya, ia bermaksud menunjukkan bahwa kita seharusnya menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang patut menjadi teladan.

Saya sepakat dengannya. Karena meskipun di dalam negeri banyak masalah, sudah selayaknya kita bangga pada negara sendiri. Dan sebenarnya, memang Indonesia sampai sekarang pun masih dikagumi banyak negara. Bila dulu di tahun 1950-an banyak negara Asia-Afrika peserta KAA yang belajar demokrasi dan perjuangan kemedekaan pada Indonesia, di tahun 1960-an Malaysia belajar sistem kenegaraan pada kita, di tahun 1970-an Vietnam belajar pertanian, di tahun 1980-1990-an banyak negara belajar pembangunan infrastruktur termasuk konstruksi jalan tol, kini kita banyak dijadikan tujuan studi untuk persoalan demokrasi.

Kita seharusnya bangga pada negara kita. Harus dipisahkan antara pemerintah sebagai pengelola negara dengan negaranya sendiri. Jadi, seburuk apa pun pemimpin-pemimpin kita, seharusnya kita sebagai rakyat dan warga negaranya tetap bangga.

Nah, di sini, saya hendak menarik konteks judul di atas sebagai ide untuk tulisan yang sifatnya lebih personal. Dalam konteks kenegaraan seperti diurai Dinna, tentunya kita sepakat pada pernyataan di paragraf sebelumnya. Tapi bagaimana dengan kita sendiri sebagai teladan? Beranikah Anda?

Saya pribadi yang merasa “bukan siapa-siapa” sebenarnya tidak merasa layak menjadi teladan. Tapi, ternyata dalam berbagai situasi dan kondisi, saya mendapati bahwa saya dijadikan teladan oleh beberapa orang. Ada yang memberitahu saya langsung saat bertemu, tapi ada yang sekedar melalui komunikasi di dunia maya.

Karena itulah, saya merasa “terbebani” untuk selalu tampil dengan kondisi terbaik. Itu bukan berarti tidak apa adanya, melainkan justru memberikan yang lebih baik dari apa adanya. Karena apa adanya terkesan seadanya tanpa usaha bukan?

Bagi LifeLearner, cobalah lihat lebenswelt Anda, bisa jadi tanpa Anda sadari sudah menjadi teladan bagi beberapa orang. Misalnya Anda punya adik, maka Anda sebagai kakak sudah pasti diteladani dalam beberapa aspek, minimal sampai usia remaja.

Maka, pandai-pandailah membawa diri. Jangan sampai sebagai teladan citra diri kita tercederai. Karena sebagai teladan, apa yang saya pelajari, justru pencitraan lebih penting daripada aslinya yang apa adanya. Jadi mengerti kan kenapa para pemimpin kita termasuk Pak SBY sendiri mati-matian menjaga “personal brand”-nya? (sampai-sampai merasa perlu meluncurkan account Twitter yang katanya pribadi?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s