Kehormatan Bagi Yang Berhak

Di tahun 1994, Manai Sophiaan -ayah aktor Sophan Sophiaan- menulis buku berjudul Kehormatan Bagi Yang Berhak. Buku itu memang menceritakan soal Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Karena di waktu buku itu ditulis, Orde Baru di bawah Soeharto kerap kali menolak atau meminggirkan jasanya. Sebagai mantan tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia), rupanya Manai Sophiaan tergerak agar jasa proklamator itu dihargai.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering sekali tidak menghargai jasa orang yang sebenarnya patut mendapatkannya. Tidak usah jauh-jauh, sudahkah Anda menghargai mereka yang menyiapkan sarapan Anda pagi ini? Itu mungkin istri Anda, atau malah asisten rumah tangga alias PRT. Di jalan, sudahkah Anda menghargai petugas polisi lalu-lintas dan petugas kebersihan yang membuat perjalanan Anda ke tempat tugas nyaman? Di kantor, sudahkah Anda menghargai  yang membersihkan WC? Apalagi kalau cuma sekali-sekali bertemu seperti pelayan restoran atau warung tempat Anda makan siang.

Itu yang sifatnya pelayanan, bagaimana dengan hal lainnya seperti ide? Saya mendapati, orang Indonesia sangat jarang menghargai pemilik ide. Kalau dalam konteks investasi, sudah menjadi kelaziman kalau investor mendapatkan imbal-hasil lebih besar. Sementara pemilik ide meskipun brilian cuma mendapatkan sedikit karena ia tidak memiliki modal kapital. Kalau tidak hati-hati, bisa-bisa malah idenya “dicaplok” orang lain sementara pengusulnya sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.

Karena itu dalam suatu seminar di suatu kampus beberapa hari lalu, saya tersenyum simpul saat seorang pembicara memuji pembicara lainnya sebagai “tukang jual ide” . Maklum saja sih, mereka ternyata satu kelompok yang sama. Kenapa saya tersenyum? Karena sebenarnya ide-ide yang dikatakannya “bukan hal baru”. Kita harus ingat ada adagium “nothing new under the sun”. Namun saya lebih tersenyum lagi saat menyaksikan yang bersangkutan terlalu “menepuk dada” soal itu.

Di sini saya malah jadi ingat diri sendiri. Betapa saya terlalu sering menepuk dada karena memang saya juga terkategori orang yang memiliki ide banyak. Hanya saja, saya sangat berhati-hati dalam melontarkan ide. Saya akan memastikan dua hal: ide itu dihargai dan diakui sebagai milik saya, dan kedua, ide itu tidak akan bisa dijalankan tanpa saya dilibatkan di dalamnya. Kalaupun misalnya dipaksakan jalan, ide itu tak akan bisa sama hasilnya bila saya yang menjalankan.

Kenapa saya bertindak begitu? Karena pengalaman saya mengajarkan hal tadi, ide jarang sekali dihargai. Padahal, ide itu sangat sulit didapatkan. Sampai-sampai ada mata kuliah “Berpikir Kreatif” di jurusan komunikasi terutama program studi periklanan. Sudah sulit, lebih sulit lagi mereka yang bisa mewujudkan ide tadi, termasuk mengerti “how-to” dan “roadmap”-nya. Saya sudah sering kecewa saat ide saya yang bahkan terwujud tidak diakui kontribusinya. Misalnya kemarin saya mengusulkan sebuah “hal kecil” untuk membuat sebuah group What’s App di sebuah komunitas yang saya ikuti. Sang ketua yang semula enggan tapi kemudian dipuji atas “terobosan” itu, ternyata tidak mengembalikan pujian itu kepada saya. Demikian pula seorang pendiri komunitas yang tahun kemarin saya buatkan buku saat ulang tahun komunitas itu -yang bukan kebetulan bertepatan dengan HUT dirinya sendiri-, baik dalam sambutan tertulis maupun di panggung saat acara HUT komunitas, sama sekali tidak berterima kasih kepada saya. Padahal proses pembuatan itu memakan waktu satu tahun dan saya bekerja tanpa bayaran, malah percetakannya saya modali dulu. Saya tidak diberikan kehormatan yang seharusnya layak saya terima.

Meski saya kini sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dalam arti tidak mengharapkan balasan dari orang, tapi tentu saja hal itu membuat saya berhati-hati. Artinya, kepada orang yang tidak mampu menghargai ide orang lain itu saya lantas mengerem untuk memberikan kontribusi ide -apalagi tindakan- lagi. Ini juga termasuk saat di tempat saya bekerja sebelumnya saya merasa “ora diuwongke” sehingga saya memutuskan keluar meski diganjar gaji lumayan tinggi dengan tujuh deret angka nol. Pada akhirnya, manusia ingin kemanusiaannya dihargai, dan itu tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun. Padahal, andaikata kata “terima kasih” lebih mudah keluar dari mulut kita, niscaya orang lain akan mudah pula tergerak untuk membantu kita. Siapa yang diuntungkan kalau begitu? Kita sendiri kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s