Dihajar Tuhan

Dalam konteks pengajaran agama Nasrani di Indonesia, hampir selalu diberitakan sisi “kabar baik”-nya. Tapi dalam Islam, justru banyak diajarkan bahwa “dunia adalah penjara bagi orang beriman”. Jarang saya mendapati ada buku yang menceritakan soal Islam sebagai “rahmatan lil alamin”. Padahal, justru itulah yang seharusnya diberitakan pada manusia! Lebih sering saya mendapati buku-buku “how to” melaksanakan ritual ibadah atau malah ancaman bagi yang tidak patuh pada syariat agama. Bahkan buku motivasi saja sifatnya “merendahkan” manusia. Mengingatkan manusia betapa mereka tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan.

Mungkin para penulisnya belum pernah dalam posisi seperti saya yang rasanya sudah terpojok ke ujung dunia. Tapi saya tahu, saya masih disayangi Tuhan dengan berbagai hikmah yang diturunkan-Nya kepada saya. Tepat di saat merasa sendirian dan ditinggalkan bahkan oleh Tuhan, beberapa waktu lalu saya menemukan buku karya Musa Kazhim dan Alfian Hamzah. Judulnya pas: “Kabar Gembira Bagi Pendosa”.

Tanpa bermaksud mempromosikan buku tersebut, saya fokus pada topik yang diangkatnya. Memang sih, buku itu membahas mengenai do’a yang diajarkan oleh Nabi Khidlir a.s. kepada Kumail bin Ziyad. Karena itulah do’a itu juga dikenal sebagai “Do’a Kumail”. Ini do’a yang panjang, memerlukan sekitar setengah jam bila dibaca langsung. Tapi bagi yang khusyu’, bisa ada dua kemungkinan: membaca dalam tempo yang lebih panjang atau berhenti di tengah jalan. Kenapa? Karena menangis!

Saya yang kedua. Tak sanggup meneruskan sampai habis.

Takut. Malu. Gentar. Sedih. Bingung. Gemetar.

Perasaan malu seringkali hinggap pada saya akhir-akhir ini. Seperti beberapa hari lalu, saat mengunjungi YPP di kantornya untuk mengambil dompet saya yang tertinggal di mobilnya, saya dipermalukan begitu rupa olehnya. Saya sampai sangat malu. Tapi bukan kepada YPP atau orang yang melihat, tapi kepada Tuhan. Bagaimana kalau Tuhan mempermalukan saya di hadapan orang yang lebih banyak? Bukan sekedar di depan teman kantornya, tapi di depan khalayak yang misalnya malah menjadikan saya panutan atau teladan. Sebutlah seperti di depan komunitas tempat saya beraktivitas.

Saya ini pendosa. Tak pernah saya berdiri tegak di panggung saat harus berbagi ilmu, pengetahuan atau ketrampilan tanpa merasa malu kepada Sang Maha Pemilik Ilmu. Apalagi saat sesekali dipercaya memimpin shalat sebagai imam, sungguh saya sangat malu. Betapa ALLAH SWT telah menutup dosa dan aib saya sedemikian rupa. Padahal, andaikata jama’ah makmum shalat saya mengetahuinya, niscaya mereka akan meludahi muka saya karena muaknya.

Astaghfirullahaladhiim.

Saat ini, saya sedang sangat “dihajar Tuhan”. Tapi saya tahu, seperti seorang murid saat “disetrap” guru, tak lain maksudnya adalah demi kebaikan si murid sendiri. Untuk mendisiplinkannya, guna mengembalikannya ke “jalan yang benar”. Meski rasa malu, sedih dan takut berkecamuk, namun sekaligus juga merasa amat dikasihi oleh Tuhan. Bahkan secara fisik saya bisa merasakan diri dipeluk oleh “sesuatu”. Aaah… pokoknya sulit dibayangkan dan diceritakan. Semua karena Tuhan membuka hati dan pikiran saya bahwa ampunannya bagi para pendosa seperti saya luas tak berbatas.

 

Catatan: Untuk artikel mengenai isi do’a ini, bisa dibaca di blog : http://syafiqb.com/2012/10/23/siaplah-menangis-untuk-doa-ini-1/. Ada tautan ke video YouTube juga untuk pembacaan do’a dengan suara yang indah disertai terjemahannya.

2 responses to “Dihajar Tuhan

  1. Ping-balik: Soekarno & Ende | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s