Tuhan “Bicara”

Saya terkaget-kaget pagi ini. Sebenarnya selama beberapa hari saya “galau berat”. Kenapa? Karena selain persoalan pribadi, ada juga soal bisnis dimana beberapa rekan yang katanya mau membantu tapi tak ada kabarnya saat Hari-H-nya tiba. Biasa… masalah komitmen.

Tapi seusai shalat Shubuh, saat menyetel televisi untuk menyaksikan khotbah pagi, saya dikejutkan dengan tema yang diusung. Baik ustadz Maulana di Trans TV maupun ustadzah Mamah Dedeh di AN Teve keduanya menampilkan hal senada. Saya yakin mereka berdua dan stasiun televisinya nggak janjian kan? Apalagi dengan saya.

Dua khotbah berturutan di televisi itu membuat saya tercenung. Seakan Tuhan “bicara” pada saya.

Meski banyak yang sudah saya kerjakan untuk mengatasi masalah, tetap saja bila malam tiba semuanya berubah. Justru di saat sendirian itulah rasa ngelangut datang. Penyesalan menghunjam bertubi-tubi. Tapi seusai mendengarkan tausiah keduanya tadi pagi, saya malah jadi bersemangat. Betul. Saya tahu bahwa justru musibah yang saya alami ini penyelamatan dari Tuhan. Apa yang saya kira tak menyenangkan sebenarnya merupakan petunjuk agar saya mendapatkan rahmat lebih baik.

Misalnya soal teman berbisnis yang kurang komitmennya, saya rasa ini justru indikasi bagus di saat bisnis “belum ada uangnya” mereka tak berkomitmen. Karena bila nantinya bisnis sudah “moncer”, bisa jadi mereka malah menikam di belakang dan wanprestasi. Seperti “memelihara anak macan” jadinya. Demikian juga soal “beliau” yang bak “kacang lupa kulitnya”.

Kembali ke soal Tuhan “bicara”, banyak “hal lucu” dan “keajaiban” terjadi dalam hidup saya sejak saya disingkapkan. Bukan hal-hal besar, tapi justru Tuhan “bicara” dalam banyak detail kecil. Bak “lahir baru”, saya melihat dunia dengan perspektif berbeda. Dalam khazanah sufisme, ada istilah “kasyaf” alias penyingkapan. Ya kira-kira seperti itulah. Bukan penyingkapan dunia gaib, tapi justru penyingkapan dunia fana tempat kita semua berdiam ini. Saya melihat segala sesuatunya lebih jelas dan terang sekarang. Memang masih jutaan atau malah milyaran tingkat di bawah maqom-nya Nabi Khidlir a.s., tapi saya sudah mampu memahami bahwa semua di hadapan kita ini cuma ilusi.

Uang ilusi. Mobil ilusi. Jalan raya ilusi. Pekerjaan ilusi. Bahkan tubuh kita pun ilusi. Pendeknya, dunia besar tempat kita berdiam ini ilusi.

Tuhan yang “bicara” ini ternyata bisa setiap saat, setiap detik. Bak Musa a.s. yang diberi mukjizat bicara setiap saat dengan Tuhan, sebenarnya tiap manusia mampu. Asalkan ia bersedia membersihkan jiwa dan hatinya serta menundukkannya hanya di hadapan Tuhan. Saya saja yang masih belepotan dosa dan kesalahan diberi hikmah kok, apalagi Anda semua LifeLearner yang jelas-jelas jauh lebih hebat dan shaleh daripada saya.

Kemampuan “mendengar” pesan Tuhan ini bukan berasal dari kita lho, tapi justru “hadiah” dari Tuhan. Saya merasakan dengan “berserah” kepada Tuhan, segalanya lebih mudah. Apa yang saya kira laknat ternyata nikmat. Dan sebaliknya apa yang saya perjuangkan habis-habisan karena saya kira berkat ternyata tak lebih dari “tai kucing rasa coklat”.

Akhirnya, saya pun cuma bisa menahan tangis sambil berbisik: “terima kasih Tuhan telah menyayangiku begitu rupa, padahal aku ini hamba-Mu yang tak tahu diri dan jahat.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s