Hidup Setelah Mati

Kalau Anda taat sekali pada agama Anda, cobalah berani menengok agama lain. Kecuali menutup kuping dengan dalih “agama saya paling benar”, cobalah berpikiran terbuka, berjiwa besar dan berhati lapang saat mempelajari agama lain. Tepikan dulu pengalaman pribadi Anda dan cobalah baca pendapat para ahli agama. Jangan cuma sibuk beribadah di rumah ibadah agama sendiri dan mendengar petuah dari pemuka agama sendiri, tanpa tahu ada “dunia lain” di luar sana.

Saya sendiri melakukan ini sejak SMP, dan bukannya menipis, justru keyakinan saya pada agama sendiri makin kuat. Walau saat melakukan perbandingan ini, hati saya seperti teriris apalagi saat membaca tulisan dari para orientalis.

Banyak topik yang bisa jadi bahan perbandingan, tidak semata soal ketuhanan dan ritual saja. Salah satu topik yang menarik saya akhir-akhir ini adalah hidup setelah mati. Kenapa? Karena alasan saat kematian ini salah satunya yang jadi landasan pasangan saya menolak berpindah agama. Ia beranggapan cara agamanya memperlakukan jenazah (dengan dirias mayat) lebih “asyik” daripada agama saya. Sementara saya sendiri justru makin yakin pada agama saya karena justru cuma agama saya yang memperlakukan jenazah secara alami. Menguburkannya tanpa busana seperti bayi.

Namun, terus terang saat membaca buku karya Farnaz Ma’sumian, saya terkejut mendapati analisanya tentang “hidup setelah mati”. Ia yang kelahiran Iran, menempuh pendidikan di University of Teheran dan Georgetown University di Washington-A.S., dan mengajar di University of Texas serta Austin Community College tentu memiliki kompetensi lebih dari memadai. Latar belakangnya sebagai orang Iran juga memberikan perspektif baru mengenai Islam dari sudut pandang Syi’ah, yang jelas tak begitu dikenal di Indonesia.

Farnaz misalnya mengemukakan, konsep hidup setelah kematian dalam Islam, baik di alam kubur maupun di hari pengadilan atau setelah kiamat, cukup banyak terpengaruh dari keyakinan lain. Tidak hanya Yahudi dan Nasrani, bahkan juga Zoroaster dan keyakinan masyarakat Arab pra-Islam. Ini cukup “menggoncangkan iman”.

Tapi bagi saya, soal ini perlu penelitian lebih jauh. Yang jelas, dari sisi ketuhanan, tidak ada yang lebih meyakinkan daripada agama saya. Dan saya tidak memaksa Anda untuk sependapat. Saya justru mengajak Anda untuk sama-sama belajar untuk mentoleransi perbedaan. Bahwasanya begitu banyak pemahaman manusia tentang agama dan Tuhan, dan tak selayaknya itu dijadikan alasan pembenar bagi tindakan pelecehan apapun apalagi kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s