Berita & Efeknya

Terus terang pemberitaan di media massa Indonesia sangat tidak menarik minat saya. Meski tetap memantau terutama karena keluarga kami berlangganan hampir semua media massa yang terbit di ibukota, akan tetapi saya tidak tertarik mengulasnya. Saya rasa, LifeLearner pun sudah “kenyang” disuguhi berita semacam itu.

Tapi ada satu yang menarik karena bisa saya bahas dari sudut pandang yang tidak biasa. Apa itu? Fenomena narkoba, perampokan, dan pembunuhan sadis.

Kalau yang pertama, kita tahu ada beberapa penemuan narkoba dalam jumlah tidak sedikit justru karena kebetulan. Walau tentu saja ada yang karena kerja keras polisi, tapi beberapa justru karena kecelakaan lalu-lintas dimana pengemudi atau penumpangnya ternyata membawa narkoba. Ini menarik karena ternyata di samping korupsi, narkoba ternyata menjadi “pilihan mata pencaharian” yang paling mendatangkan uang.

Di dunia kita yang materialistis saat ini, rasanya uang jadi “tuhan” baru. Masyarakat kita disuguhi iklan hedonis tiap hari melalui berbagai media terutama televisi. Pameran kekayaan tampil pula dalam infotainment dan sinetron. Tak heran masyarakat dari berbagai lapisan berlomba-lomba mengkonsumsi simbol-simbol kekayaan, bahkan bagi yang belum atau tidak berada pada status sosial yang seharusnya memilikinya. Untuk itu, mereka “memaksa diri” memilikinya. Selain menjadi “agen” narkoba, salah satu “cara alternatif” adalah merampok. Baik itu merampok nasabah bank yang baru mengambil uang, tapi yang lagi “ngetren” adalah merampok minimarket dan SPBU. Baik cara mencari nafkah dengan narkoba atau merampok tentu saja melanggar hukum dan tidak untuk ditiru.

Demikian pula kondisi ekonomi sulit dan berbagai tekanan membuat mudahnya manusia menghalalkan kekerasan.. Salah satu yang memenuhi pemberitaan adalah adanya pembunuhan sadis dengan berbagai cara. Mulai dari mutilasi hingga pembakaran hidup-hidup. Apapun penyebabnya, semua itu bukan hanya melanggar hukum, tapi juga norma kemanusiaan dilanggar begitu rupa.

Sebenarnya, dari sudut pandang saya, persoalan ini memang bisa jadi dipicu beragam motif dan penyebab. Akan tetapi, peran media massa terutama televisi juga besar. Pemberitaan massif malah menimbulkan ide bagi para pelaku pembunuhan sadis. Karena faktanya para pelaku yang terungkap adalah orang biasa, dalam arti bukan penjahat kambuhan. Jadi, seharusnya ada kontrol khusus agar berita soal ini tidak disiarkan dengan cara vulgar oleh media massa. Sayangnya, justru pasca reformasi dengan alasan HAM dan demokrasi tidak lembaga yang bisa mengendalikan hal ini.

Masyarakat kita sebenarnya belum dewasa. Sehingga berita dan tayangan media massa seringkali merasuk ke dalam jiwa tanpa disadari. Bahkan yang negatif sekali pun tanpa bisa disadari. Karena itu, justru dibutuhkan kearifan pengelola media yang jelas lebih pintar untuk mengendalikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s