Agama: Antara Pakar, Pemuka Agama dan Umat

Pagi ini, seusai shalat Shubuh, saya menyaksikan tayangan televisi yang menayangkan khotbah agama Kristen, yang  tentu saja disampaikan oleh pemuka agamanya. Terus-terang, sepanjang perjalanan hidup saya dan mempelajari begitu banyak literatur berbagai agama, saya belum pernah menemukan agama yang para pemukanya begitu pandai seperti agama Kristen.

Apa pun denominasinya (ada lebih dari 100 denominasi resmi Nasrani, belum terhitung sekte tak resmi), agama ini punya ahli yang sangat ahli. Begitu ahlinya hingga umatnya tak mengetahui lagi apa-bagaimananya tentang agamanya. Mereka terbuai dengan implementasi harian yang dipertegas dengan ibadah tiap minggu.

Karena sejak SMP saya sudah mempelajari agama Kristen bahkan berinteraksi dialogis dengan para pengikutnya, termasuk yang terakhir justru pasangan saya sendiri beragama Kristen, saya memahami pola pikir umat atau jemaat berbeda dengan para pemuka agama apalagi ahli agamanya. Pasangan saya yang pernah menjabat Sekertaris Umum Pemuda Gereja sebuah gereja besar di Jakarta dan sangat ahli di bidang alkitabiah bisa dengan santainya menepis tulisan seorang Profesor dari agamanya sendiri sebagai “oknum”. Ia begitu yakin pada pendapatnya sendiri yang menurutnya “paling benar di dunia”. Pengamalan dan pengalaman pribadi lebih penting dari studi ilmiah dan saintifik yang bahkan direstui oleh institusi gerejawi sendiri.

Memang sejak Renaissance gereja dipisahkan dari kehidupan bernegara dan sosial. Tapi sejatinya, untuk masalah agamawi seharusnya institusi gereja tetap memiliki wibawa kepada umat. Masalahnya, bagi pengikut Reformis  tak ada hierarki institusi gereja yang diakui seperti Katholik. (Sebagai catatan: Di Indonesia secara umum gereja reformasi disebut Protestan atau singkatnya Kristen. Padahal sebenarnya yang disebut Protestan itu adalah Lutheran dalam kajian agama dunia. Sementara golongan Reformis sendiri terbagi tiga, yaitu pengikut Luther, Calvin dan Quaker).

Kembali ke khotbah agama Kristen yang saya saksikan tadi pagi, dibahas mengenai “Dosa Keturunan” (mengenai tema ini akan saya bahas lain waktu). Dalam pemaparan yang dibawakan secara menarik oleh Pendeta Gilbert Lumoindong, S.Th., saya makin mafhum mengapa umat Kristen di Indonesia memahami agamanya berbeda dengan literatur yang saya pelajari. Literatur yang tentu dibuat oleh para pakar agama. Memang, ada yang namanya “kontekstualisasi” dalam strategi penginjilan yang dilakukan oleh pemuka agama. Dan di Indonesia dengan dasar negara Pancasila yang sila pertamanya “Ketuhanan Yang Maha Esa”, semua agama terpaksa bermetamorfosis agar dibolehkan hidup. Bahkan agama yang dalam kajian agama dunia dikenal sebagai penganut polytheisme seperti Hindu dan Buddha pun mengaku “bertuhan satu” di Indonesia. Apalagi Kristen yang dalam kajian agama dunia memang dikenal sebagai salah satu dari tiga agama monotheisme.

Maka, saya pun jadi paham kesulitan memberikan “penyadaran” bagi umat beragama di Indonesia adalah justru karena adanya perbedaan pemahaman antara pakar agamanya, pemuka agama dan umatnya. Ada disparitas besar yang membuat kerapkali diskusi dengan akal sehat dan hati dingin sulit dilakukan. Karena seperti dipertegas mantan pasangan saya, agama itu soal hati. Itu berarti emosional dan mengesampingkan akal-budi. Tak penting segala fakta kalau hati bicara. Sulit sungguh. Dan kesulitan itu saya alami sendiri sehingga membuat kegagalan dalam kehidupan pribadi saya, justru karena saya sombong merasa pakar bisa mengubah pandangan seorang umat yang awam. Padahal, bagi awam, implementasi agama secara sederhana dalam hidup sehari-hari dan pemahaman dengan hati lebih penting dari seabrek fakta, sejarah, dan perbandingan yang rumit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s