Modal Anggota Parlemen

Tahun depan Indonesia akan menghadapi Pemilu Nasional. Selain memilih anggota parlemen atau badan legislatif di semua tingkatan –nasional, provinsi dan daerah tingkat 2- juga memilih presiden dan wakil presiden. Sudah ditetapkan 12 partai politik di tingkat nasional dan 3 partai lokal di Aceh untuk mengikuti Pemilu. Sementara untuk presiden dan wapres tentu menunggu hasil pemilu legislatif karena untuk mengajukan calon perlu batas tertentu.

Di tingkat nasional, hanya ada 560 kursi parlemen yang diperebutkan. Dari 12 parpol yang ada, andaikata masing-masing mengajukan pas kuota saja, maka ada 6.720 orang calon legislatif yang bertarung. Masing-masing berusaha mendapatkan tiket ke Senayan. Dan itu ternyata tidak murah, memerlukan modal yang besar.

Menurut majalah “Sindo Weekly” edisi no. 03 tahun II, 21-27 Maret 2013, diperlukan dana paling sedikit Rp 250 juta untuk “nyaleg”. Itu pun bagi mereka yang termasuk “figur publik” karena sudah dikenal luas. “Sindo Weekly” juga merujuk pada penelitian Pramono Anung Wibowo dalam disertasinya di FISIP Universitas Padjajaran-Bandung berjudul “Komunikasi Politik dan Pemaknaan Anggota Legislatif terhadap Konstituen (Studi Interpretatif Pemilu 2009)”  sebagaimana dituangkan di tabel berikut:

LATAR BELAKANG BESARAN DANA KAMPANYE
Figur Publik Rp 250 juta – Rp 800 juta
Aktivis Rp 500 juta – Rp 1 milyar
TNI-Polri, Birokrasi Rp 1 milyar – Rp 2 milyar
Pengusaha Rp 1,6 milyar – Rp 6 milyar

Melihat besarnya modal kapital yang dikeluarkan, tak heran bila para anggota parlemen berupaya agar bisa “balik modal” saat menjabat. Padahal, menurut catatan Penelitian Fakultas Psikologi UI yang dikutip majalah “Sindo Weekly”, di masa bakti 2009-2014 terdapat 63 % atau 352 orang anggota parlemen yang pengusaha. Pada periode ini juga yang kini masih menjabat, sudah ada 41 orang yang terlibat atau terindikasi korupsi.

Saya sendiri tadinya berniat untuk turut serta meramaikan bursa pencalonan anggota legislatif tahun depan. Apalagi saya punya beberapa “pintu masuk” ke sejumlah partai politik. Tapi selain pertimbangan idealisme, akhirnya pertimbangan modal kapital di atas membuat saya urung. Meski sudah sempat melakukan komunikasi, namun saya kemudian menarik diri. Saya tak mau terjebak pada situasi harus mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Karena saya ini “bukan siapa-siapa”, sudah pasti makin besar dana yang harus dikeluarkan karena saya tak dikenal konstituen. Karena di zaman ini, bermodal idealisme dan semangat pengabdian saja ternyata tak cukup.

Iklan

One response to “Modal Anggota Parlemen

  1. Ping-balik: Regenerasi Kepemimpinan Nasional | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s