Interaksi Dengan Sesama

Hari ini saya merasa beruntung bisa menghadiri sebuah seminar di sebuah kampus yang insya Allah akan jadi masa depan saya. Insya Allah, aamiin. Dikarenakan sebuah kebetulan melihat iklan di Kompas, saya mendapatkan informasi sahabat saya Mike Rini,CFP akan jadi pembicara di seminar tersebut. Dan saya pun mendaftar sebagai peserta sekaligus janjian ngobrol-ngobrol dengannya. Maklum, dia “seleb” di bidangnya: financial planning. Jadi agak susah menemuinya di tengah kepadatan waktunya.

Saya tambah merasa beruntung saat di sana berkenalan dengan sejumlah peserta lain. Ternyata, meski saya merasa sedang “di bawah”, saya masih cukup “di atas” dibandingkan beberapa orang lainnya. Dan saya benar-benar belajar menjadi pribadi yang menyenangkan. Namun, ternyata menyenangkan saja tak cukup. Karena beberapa orang justru tampaknya menghindari orang yang menyenangkan. But, that’s not my problem. That’s their problem.

Acaranya sendiri tidak begitu berkesan bagi saya. Karena apa yang dipaparkan lebih seperti sharing ketimbang problem solving. Maklum saja, para pembicaranya adalah praktisi yang kebanyakan tidak sistematis saat bicara, lagipula hampir semuanya tidak membuat makalah. Malah bagi saya pribadi, lebih menarik berinteraksi dengan sesama peserta daripada mendengarkan pemaparan pembicara.

Saya mendapati, manusia Indonesia cenderung defense saat berinteraksi dengan sesama. Bahkan di sebuah acara yang bersifat santai dan mengutamakan interaksi, pembicara atau pembawa acara sampai harus mengarahkan peserta untuk berkenalan. Tentu tidak semua begitu, tapi tentu yang mudah membuka pembicaraan adalah mereka yang cukup “aman” dengan dirinya. Apalagi membuka diri lebih jauh, tentu perlu manusia berjiwa besar dan berhati lapang.

Saya sendiri terus belajar mengenai hal ini. Karena terus terang interpersonal skill saya kurang. Walau lucunya, banyak yang mengira teman saya banyak. Padahal tidak. Saya tidak punya teman. Yang ada adalah kenalan, kolega, dan partner bisnis. Jejaring saya yang banyak. Tautan (link) saya dengan orang lain bisa saya dengan mudah saya jalin cuma dengan 1-2 kali pertemuan.

Sayangnya, seperti saya bilang tadi, kebanyakan orang bersikap defense. Sehingga dalam berinteraksi dengan orang lain, seringkali sayalah yang harus memutar otak bagaimana mencairkan suasana. Tapi kalau ternyata memang lawan bicara saya terkategori “orang sulit”, ya apa boleh buat… Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala dan hati jelas berbeda kan?

2 responses to “Interaksi Dengan Sesama

  1. Err.. masa’ sih gak punya teman, mas? Atau saya nih yang gak paham definisi teman ya? Hehehe..

    Mengenai pembicara di sebuah seminar, seorang teman saya pernah berkata;

    ilmu yang bisa didapat dari meja kecil, jauh lebih besar ketimbang kala presentasi disampaikan di panggung utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s