Indonesia Bukan Negara Agama!

Saya membaca di harian Republika hari ini bahwa sebuah organisasi massa (ormas) bercorak ke-Islam-an berniat mengadakan muktamar. Bukan soal pertemuan itu yang hendak saya bahas, namun ada pernyataan bahwa mereka hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia. Bahkan ada kalimat yang bernada menenangkan, namun bagi saya justru mengerikan: “Syariah Islam tak perlu ditakuti oleh kalangan non-Muslim. Sebab, agama tauhid ini takkan memaksa orang Kristen masuk Islam. Umat Kristiani bebas menjalani hidup berdasarkan agama yang mereka anut.”

Dari pernyataan itu saja jelas terlihat sempitnya pemahaman tokoh ormas tersebut. Pertama , siapa yang bilang semua orang Islam di Indonesia setuju penerapan syariat Islam? Bukti paling sederhana, setiap Pemilu partai politik bercorak ke-Islam-an tak pernah menang. Itu bukti mayoritas rakyat Indonesia yang mayoritas Islam jelas berpihak pada paham nasionalisme. Kedua, memangnya di Indonesia cuma ada dua agama yaitu Islam dan Kristen? Lalu bagaimana dengan Katholik (yang pasti mereka sama ratakan sebagai Kristen), Hindu dan Buddha? Juga bagaimana dengan kepercayaan kepada Tuhan YME dan agama adat tradisional?

Saya paling tidak setuju bila ada yang hendak menjadikan Indonesia negara agama, apalagi Islam. Cita-cita para pendiri negara kita tidaklah begitu. Sekarang saya tantang saja, siapa yang berani mengkafirkan Muhammad Natsir? Beliau adalah pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan pendiri bangsa kita. Sebagai salah satu dari 9 anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) beliau setuju menghapuskan 7 kata Piagam Jakarta dari sila pertama Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Beliau melakukan itu dengan kebesaran jiwa kenegarawanan, walau seolah itu merugikan umat Islam. Kata yang dihapus adalah “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Dengan begitu, maka sudah final bahwa penerapan syariat Islam secara negara di Indonesia tak bisa dilakukan. Kecuali dengan satu syarat: membubarkan Indonesia. Dan itu jelas tak akan bisa diterima. Saya akan angkat senjata melawan mereka bila itu dilakukan.

Mungkin tokoh organisasi itu cuma dicekoki doktrin jihad Ikhwanul Muslimin di Mesir tanpa mengerti esensinya. Waktu saya berdiskusi dengan seorang petinggi organisasi itu, ia malah menunjukkan muka heran dan tak mengerti waktu saya bertanya sederhana: “Kalau sistem syariat Islam mau diterapkan di sini, mau mengikuti kekhalifan Islam yang mana? Barat atau Timur?” Ia malah balik bertanya, “Memangnya ada kekhalifahan Barat dan Timur?” Hahaha. Makanya belajar sejarah Akhi, jangan cuma makan omongan ustadz Anda yang mungkin malah tak pernah kuliah itu.

Dan mereka mungkin lupa, pernah ada gerakan serupa di masa Orde Lama. Namanya Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Gerakan ini adalah pemberontakan separatis paling lama, paling luas wilayahnya, dan paling makan korban di era Soekarno. Apakah mereka Islami? Tidak. Mereka kejam. Orangtua saya bercerita betapa TII mencegat orang di jalan dan yang dituduh tidak menjalankan syariat Islam (seperti anggota parpol nasionalis atau komunis), bisa serta-merta mereka bantai saat itu juga tanpa proses peradilan apa pun.

Mungkin anggota ormas itu bisa berdalih, kami bukan mereka. Oh ya? Mari kita lihat penerapan syariat Islam di Aceh. Betapa pemerintah daerah yang menjurus ke separatis itu (saya rasa kita ditipu di Helsinki) malah rebyek mengurusi cara orang berpakaian. Kalau Anda sudah pernah ke Arab Saudi, niscaya itulah yang hendak ditiru. Saya tegaskan: itu bukan Islam! Itu Wahabi! Coba bandingkan situasi di Arab Saudi dengan negara Islam lain di Timur-Tengah seperti Yordania, Uni Emirat Arab atau malah Mesir sendiri. Apakah warga negara di sana berpakaian ala Wahabi? Tidak! Wanita di sana bahkan banyak yang tidak berjilbab di tempat umum.

Islam itu tidak menyusahkan. Islam tidak mau menang sendiri. Islam mengedepankan toleransi dalam muamalah seperti ditunjukkan oleh Nabi sendiri dalam Piagam Madinah. Berani bilang Nabi kafir ndak, wahai ustadz dan habib anggota ormas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s