Cukup Ya Cukup!

Hari ini saya membuat keputusan yang mungkin akan dipertanyakan banyak orang, terutama mereka yang berada di lingkaran terdekat saya. Tapi sayalah yang menjalani, dan saya berkata: “cukup ya cukup” (enough is enough).

Ini tentu keputusan subyektif saya sendiri. Karena seperti berkali-kali saya bilang, kalau ada orang sakit gigi, yang merasakannya hanya yang bersangkutan. Dokter atau siapa pun cuma bisa membantu atau berempati. Tak bisa mengambil-alih rasa sakitnya.

Rasa sakit itu yang saya rasakan selama beberapa waktu bekerja di tempat orang lain. Rupanya, ada disparitas antara nilai-nilai yang katanya mereka anut dan yang dipraktekkan. Terutama sekali di divisi dimana saya ditempatkan. Saya tidak melihat hal itu pada diri pimpinan tertinggi di divisi saya. Meski saya sepakat dengan nilai-nilai yang dicanangkan pemilik perusahaan, namun pada prakteknya sulit mendapatinya pada diri pimpinan tertinggi di divisi saya.

Beliau sering sekali mengeluarkan kalimat dan kata-kata yang bersifat merendahkan. Tidak hanya itu, perlakuannya pun merendahkan. Terus-terang, seumur-umur bekerja, saya belum pernah direndahkan seperti itu. Saya diperintahkan mengerjakan pekerjaan yang jauh di bawah tingkatan pekerjaan dan jabatan saya. Intinya begini, kalau saya memang pembantu rumah tangga (PRT), silahkan saya diperlakukan seperti pembantu. Saya akan melakukannya dengan senang hati karena saya memang PRT. Tapi ini saya bukan PRT, kok diperlakukan seperti PRT?

Pendeknya, kalau orang Jawa bilang, saya merasa “ora diuwongke”. Padanan bahasa Indonesianya sulit, karena terjemahan harfiahnya “tidak diorangkan”. Mungkin lebih tepat bila diartikan “tidak diperlakukan selayaknya”. Ini sekali lagi subyektif, tapi bukan berarti tidak eksis. Karena eksistensi itu bukan tergantung orang lain, melainkan diri orang yang mengalaminya.

Eksistensi saya diinjak-injak. Harga diri saya dijatuhkan. Saya lebih memilih membela semua itu daripada sekedar pekerjaan, meskipun gajinya di atas rata-rata. Kenapa? Karena bagi saya kehormatan adalah segala-galanya. Sementara rezeki sudah ada yang mengatur: Tuhan Yang Maha Kaya dan Pemberi Rezeki. Semoga Tuhan mengampuni langkah keras saya, yang telah mengorbankan nama baik saya di tempat tersebut. Ini semata demi membela kehormatan yang tak mungkin saya raih di sana. Cukup ya cukup!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s