Kekasih Tuhan Palsu vs Sejati

Frasa “Kekasih Tuhan Palsu” bisa berarti dua, tergantung pemotongan diksi suku katanya. Pertama, kekasihnya Tuhan yang palsu. Artinya yang palsu Tuhan-nya. Atau kedua, kekasih palsu-nya Tuhan. Di sini yang palsu kekasihnya. Dalam artikel ini, saya membahas yang kedua.

Saya ini termasuk kekasih Tuhan palsu. Iya. Karena saya tertipu bayangan saya sendiri. Saya merasa hebat ibadahnya, merasa tahu agama, merasa-merasa-merasa. Padahal, kalau kata orang-orang tua di Jawa, rumongso iso bedo karo iso rumongso.

Artinya, merasa bisa itu tidak sama dengan bisa merasa. Kalau yang pertama itu “belagu” dan “omong doang”, sementara yang kedua artinya rendah hati, peka dan empatik.

Dengan rumongso iso, saya merasa seolah sudah jadi wali. Pret! Padahal bahasa Arab saya saja cuma pasif dan terbata-bata. Kemampuan hafalan Qur’an saya cuma setara anak SD. Kok ya bisa-bisanya merasa diri kekasih Tuhan?

Tapi saya lebih kasihan lagi pada mereka yang tetap saja tak sadar bahwa dirinya bukan kekasih Tuhan. Dengan bangganya mereka memajang fotonya di perempatan jalan dan mengadakan perkumpulan massa pengikutnya dalam jumlah besar hingga membuat macet jalanan. Mereka tidak sadar, mereka sedang tidak memuja Tuhan melainkan memuja diri sendiri. Itulah esensinya Rasulullah SAW yang teramat mulia melarang dirinya digambar atau dipatungkan.

Kekasih Tuhan sejati justru sebagian besar tersembunyi atau sengaja bersembunyi. Guru saya yang mulia misalnya, tinggal di suatu kota dekat Jakarta. Beliau tidak buka praktek, namanya tak dikenal media, tapi kerap didatangi para pejabat. Waskita dan bersahaja. Rumahnya sederhana dan kerap menolak pemberian orang yang dianggapnya tak layak karena “cacat moral”. Misalnya ada cerita seorang jenderal yang hendak bertamu tidak dibukakan pagar karena beliau tahu siapa sebenarnya si jenderal. Berjam-jam menunggu hingga berteriak-teriak memohon tetap tidak dibukakan hingga ia terpaksa pulang kembali ke Jakarta. Tapi tahukah Anda, saat keluarga kami sedang digoncang masalah, beliau “kontak batin” dan tanpa diberitahu tiba-tiba malah datang ke rumah orangtua saya untuk menolong.

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Semoga ALLAH SWT menganugerahkan ridho’-Nya kepada beliau selalu. Aamiin.

One response to “Kekasih Tuhan Palsu vs Sejati

  1. Ping-balik: Cium Tangan | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s