Indigo

Ya. Saya indigo sejak kecil, tapi baru tahu istilah itu setelah kuliah tentu saja.

Sewaktu kecil saya heran kenapa saya melihat yang orang lain tak lihat, mendengar yang orang lain tak dengar, merasa yang orang lain tak rasa, bermimpi yang orang lain tak memimpikannya. Saya malah merasa saya gila saat itu. Saat saya beranjak dewasa, barulah saya bertemu orang-orang yang membuat saya tahu apa sebenarnya yang saya lihat, dengar, rasa dan mimpikan.

Tapi terus terang, saya merasa anugerah Tuhan itu saya salah sikapi. Saya jadi sombong. Merasa sebagai “yang terberkati”. Padahal, sebenarnya itu siksaan. Ya iya lah, lagi makan bakmi di bawah pohon bambu kok tiba-tiba ada bata jatuh dari langit sampai penjual bakminya ketakutan. Kalau cuma sebangsa kuntilanak sih sudah sering melambai-lambai minta dinikahi. Saat tidur tahu-tahu ada yang masuk ke mimpi dan mengajak ngobrol. Bleh!

Dunia saya terbelah. Saya jadi tahu di balik dunia yang kita usahakan tiap hari ini, ada dunia lain yang Tuhan sembunyikan. Kenapa disembunyikan? Justru karena Tuhan sayang pada kita. Bentuk mereka aneh-aneh. Bisa-bisa kita nggak ngapa-ngapain karena ketakutan. Makanya sulit sekali bagi indigo tapi tidak berprofesi sebagai paranormal. Karena tentu saja harus mampu membedakan dua dunia tempat berpijaknya. Sebagai contoh, cinta pertama saya AMP juga seorang indigo. Malah lebih kuat daripada saya. Sehingga saat kami sedang bersama sering sekali ia mengkonfirmasi kepada saya, “Mas, itu orang bukan sih?” Padahal di mana-mana mereka ada. Satu saat ia menelepon saya saat sedang bekerja di kantornya yang berada di lantai 19 sebuah gedung di pusat kota Jakarta. Apa isi pembicaraannya? Ia cuma mau bilang ada orang bermuka rusak terbang mengintip di luar jendela kantornya. Coba bayangkan kalau itu terjadi pada Anda. Hehehe.

Bertahun-tahun anugerah Tuhan itu membuat saya terlena. Saya lupa bahwa saya berpijak di dunia material yang memerlukan pengupayaan untuk mendapatkan sesuatu. Karena di dunia immaterial, creatio ex nihilo itu sangat mudah. So, it’s time to left it behind. Please God, help me….

One response to “Indigo

  1. Ping-balik: Isra’ Mi’raj & Bung Karno | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s