Cinta Tapi Beda

Buku NBA-BhayuBeberapa hari lalu, saya menyaksikan film Cinta Tapi Beda (CTB) di bioskop. Kisah di film itu sendiri mirip dengan kisah saya. Selain selama tujuh tahun memiliki pasangan yang beragama Kristen Protestan, saya sempat “naksir” seorang lain yang beragama Katholik. Meski sempat berkomunikasi cukup intens, tapi untuk yang ini saya bertepuk sebelah tangan. Dari sini, ada satu kebetulan yang membuat saya tersenyum simpul saat menyaksikan film itu. Beliau yang sempat saya taksir itu berprofesi sebagai penari. Sama persis dengan karakter Diana (diperankan oleh Agni Pratistha) dalam film CTB.

Di Indonesia dimana agama seringkali dijadikan “latar depan” seseorang, masalah yang di dunia barat adalah privasi malah jadi ranah publik. Coba deh tanyakan pada “bule” mana pun, apakah di ID-Card mereka ada identitas agama. Jawabannya pasti tidak ada. Cuma di kita saja “masalah kuno” ini masih jadi masalah.

Kalau Anda belum tahu, di negara kita terlarang secara hukum dua orang berbeda agama menikah. Meski institusi agama mengakui dan mengesahkan, negara tidak. Maka, di mata negara, pernikahan mereka dianggap tak ada dan tidak diakui. Akibat hukumnya panjang, salah satunya adalah anak pasangan nikah beda agama (yang diakronimkan NBA oleh sahabat saya Mohammad Monib) dianggap anak di luar nikah. Hak-hak perdata pasangan NBA terkait pernikahan dan keturunannya tidak diakui.

Dua buku yang sampulnya saya jadikan ilustrasi artikel ini juga dijadikan sebagai “bacaan” karakter di film CTB. Salah satunya dituliskan oleh sahabat saya tadi, Mohammad Monib dan Achmad Nurcholish. Membacanya, terasa trenyuh bahwa sebuah keagungan bernama cinta harus dipisahkan oleh masalah administrasi. Saya sendiri sempat terlahir sebagai orang Indonesia yang WNI (Warga Negara Indonesia). Pernikahan dua WNI berbeda agama jauh lebih sulit dan nyaris tanpa solusi dibandingkan pernikahan WNI dengan WNA. Malah, dalam kasus pernikahan antar bangsa, agama tidak menjadi masalah.

Lihatlah diskriminasi yang dilakukan negara dengan hebatnya. Dan penguasa sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk menjernihkannya. Padahal, kebebasan beragama termasuk salah satu hak asasi yang semestinya dijamin oleh negara beradab mana pun. Seharusnya termasuk pula dalam memilih pasangan hidup.

Agama seringkali jadi alasan banyak orang untuk membenarkan sikap dan pandangan fanatisme bahkan fatalisme. Kekerasan atas nama agama kerapkali ditunjukkan. Bahkan film seperti CTB pun mendapatkan dampaknya. Ada beberapa organisasi bercorak ke-Islam-an yang mengkritisi film ini. Antara lain karena karakter Diana digambarkan sebagai seorang gadis asal Minangkabau namun tidak beragama Islam. Bagi saya sendiri, memang secara faktual agak aneh ada orang Minang yang non-Muslim apalagi sejak lahir. Mungkin karakter Minang sama dengan Aceh atau Makassar yang sedari zaman kerajaan Nusantara pra-Indonesia sudah merupakan basis agama Islam. Tapi, bagi saya, sekali lagi itu hanya film. Bisa jadi produser dan sutradaranya hanya ingin menggambarkan satu kekontrasan yang ekstrem.

Dalam konteks NBA, tidak ada solusi bagi WNI. Seperti digambarkan di film ini, juga film-film lain sebelumnya seperti 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010), NBA mustahil. Jalan keluarnya cuma ada dua: salah satu dari pasangan pindah ke agama yang sama dengan pasangannya, atau menikah di luar negeri. Ada lagi sih solusi lain, yaitu pindah kewarganegaraan. Tapi, opo tumon?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s