Masalah Hidup & Solusinya

Siapa yang tak punya masalah dalam hidup? Saya rasa tak ada. Bahkan mereka yang terlihat aman-tenteram-damai saja pasti punya masalah. Misalnya para bikkhu Buddha yang tinggal di puncak pegunungan Himalaya pun punya masalah. Meski bisa jadi masalahnya sebatas “berapa banyak mantra yang musti dirapalkan untuk hari besar keagamaan tertentu”. Tapi tetap saja itu masalah buat mereka.

Seperti berkali-kali saya tuliskan, masalah hanya masalah bagi yang mendapatkan masalah. Tapi saya mendapatkan perspektif baru dari buku Pemulihan Jiwa karya Dedy Susanto yang menyebutkan bahwa “masalah bukan masalah bagi yang tidak mempermasalahkannya.”

Sebagai orang yang merasa (bahasa Jawa-nya: rumongso) banyak tahu, saya kerap memilih-milih anjuran atau nasehat. Meski tahu ada pepatah bijak mengatakan “jangan lihat siapa yang bicara, tapi dengarkan apa yang dikatakannya”, namun prakteknya sulit. Kalau yang mengatakan saya anggap tidak kompeten, saya biasanya mengabaikannya. Di sini saya berprinsip lain: “tanyakan pada ahlinya”. Kalau seorang ahli bela diri mengajari saya jurus-jurus menghindar dari pukulan, tentu saya ikuti. Tapi kalau yang mengajari pebulutangkis, tentu “jurus”-nya berbeda dong. Karena pebulutangkis justru menyongsong pukulan kok (cock) yang datang.

Nah, dalam soal masalah hidup ada ganjalan kecil. Kita tidak bisa tahu siapa yang “kompeten” sebagai guru kita dalam kehidupan. Jadi, justru peribahasa lain yang harus dipegang. Itulah “kalau murid siap, guru akan datang.”

Dan itulah yang saya seringkali hadapi. Dalam soal hidup, kalau hati kita tawadhu’ dan pikiran kita terbuka, niscaya pelajaran hidup akan mudah masuk. Bahkan “guru”-nya bukan cuma manusia lho. Terkadang malah yang tak diduga seperti kecoa atau daun. Bak pepatah Minang: “alam takambang menjadi guru”.

Makin kita mampu menangkap “frekuensi alam” itu, makin mudah kita membuka diri terhadap pelajaran. Dan seringkali solusi dari masalah hidup tergambarkan dari pelajaran itu. Sebutlah seperti pemahaman baru yang saya dapat dari buku karya Dedy Susanto tadi. Padahal, kalau melihat kompetensi akademisnya, mungkin tak meyakinkan. Namun, karena apa yang dituliskannya merupakan “best practice” sebagai intisari pengalaman hidupnya, maka “kena”.

Tapi, sekali lagi itu tergantung pada kemampuan kita menangkap apa yang dimaksudkannya. Karena tak peduli sebagus apa pun suatu buku ditulis oleh seorang seahli apa pun, kalau pembacanya tak mau membuka diri, tak akan masuk sama sekali. Dengan pencerahan baru itu, saya mencoba mengesampingkan masalah hidup dan tidak mempermasalahkannya. Karena memang harus diakui dan diterima, ada masalah hidup yang tak ada solusinya. Dan itulah pentingnya “berserah” kepada Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s