Budi

Kata “budi” mungkin nama paling terkenal di Indonesia. Kenapa? Karena nama ini digunakan sebagai nama anak lelaki dalam pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. (Ingat kan kalimat: “Ini Budi” ?).

Budi sering diartikan sebagai “kebaikan”. Tapi bisa juga diartikan lebih mendasar seperti “akhlak” atau “moral”. Dalam konteks lain budi juga bisa dianggap sebagai “sikap atau panduan hidup”.

Seperti halnya kata-kata sifat lain yang mencerminkan kebaikan, lebih mudah berkata dan menuliskannya daripada melaksanakannya. Bahkan tiap hari berteriak-teriak tentang budi belum tentu menunjukkan yang bersangkutan orang yang berbudi.

Sebagai “panduan hidup”, kata budi diabadikan oleh pendiri kantor saya sebagai semacam filosofi. Karena perusahaan tempat saya bekerja bergerak di bidang pengembangan SDM, maka tentu “si budi” tadi juga diajarkan kepada klien. Semuanya mulia tentu. Tapi saya lihat penerapan atau implementasinya tak semudah membalik telapak tangan.

Sulit menjadi orang berbudi. Bisa jadi sama sulitnya dengan menjadi orang ikhlas. Kalau budi dilakukan tanpa ikhlas berarti ia berpamrih dan bukan lagi budi sejati.

Dalam kondisi sulit, kita akan bisa melihat dengan jernih siapa orang yang benar-benar berbudi. Misalnya saat musibah banjir besar yang melanda ibukota kemarin. Kita melihat banyak orang cuma berwacana, baik dengan bicara atau menulis. Kalau dia tokoh masyarakat atau public figure sih tidak masalah. Tapi yang saya baca di internet malah banyak komentar dari “bukan siapa-siapa”, tapi “puedes”-nya minta ampun. Pertanyaan sederhana: budi apa yang sudah mereka lakukan secara konkret untuk meringankan derita korban banjir?

Saya pribadi terus-terang tidak banyak. Cuma membantu sekedarnya saja melalui rekening sebuah lembaga kemanusiaan dan membantu masyarakat di sekitar kantor saya yang juga jadi korban banjir. Tapi, setidaknya “i do something”. Budi itu selalu bermanfaat bagi orang lain dan tidak hanya bagi diri sendiri. Karena itu jangan mengira perbuatan seperti jujur cuma punya implikasi ke dalam. Karena bila kita jujur saat menyalurkan bantuan misalnya, tentu ada orang lain yang berhak akan mendapatkan bagiannya.

Budi tak akan bisa keluar dari pribadi yang tidak bersih. Ia hanya bisa termanifestasi dari keluhuran hati. Dan itu tak cukup cuma dengan introspeksi dan perenungan belaka, apalagi sekedar membaca buku dan mendengarkan ceramah. Karena budi adalah juga tindakan, maka ia perlu dipraktekkan. Sudahkah kita?

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s