Sinis & Mencibir

Dulu, sekitar delapan tahun lalu, saya sering dikritik sebagai orang yang “sinis”. Terutama oleh pasangan saya saat itu yang berinisial AMP. Saya sangat sadar itu. Dan walau sangat ingin berubah dan berupaya keras menjadi lebih baik, rupanya itu sulit kalau kita “merasa tidak aman”. Selalu saja ada hal yang membuat kita ingin berkomentar sinis. Ternyata bersyukur kepada Tuhan dan menerima hidup kita sebagai sebuah perjalanan yang melewati rute berliku itu sangat penting. Kita harus sadar, bagai roda, kadang hidup di atas tapi bisa juga di bawah. Dan itu bukan sekedar soal harta atau kekayaan saja lho.

Buktinya saya. Meski secara ekonomi alhamdulillah lebih baik daripada 8 tahun lalu, tapi rasa “tidak aman” itu bisa hadir kapan saja. Kehilangan kepercayaan dari orang terdekat bisa menghantam begitu rupa. Jadi ingat kasus seorang anak mantan Presiden Soeharto yang justru menikah lagi dengan seorang “penyanyi nggak laku”. Saking tidak amannya, sang istri dan anak-anaknya yang marah sampai nekat menabrakkan mobilnya ke pintu pagar sang selingkuhan. Toh, manusia berhak memilih. Meski bagi orang luar sang istri jauh lebih baik daripada si selingkuhan, toh suami itu malah memilih yang kedua dan menceraikan istri pertamanya.

Sulit memahami bahwa pilihan yang sudah dijatuhkan bisa berubah. Karena saya tipe orang yang “memakai barang dari baru sampai rusak”. Saya bukan tipe orang yang senang gonta-ganti barang apalagi cuma karena update teknologi. Dan memahami bahwa sebagai manusia saya juga merupakah “barang pilihan” jauh lebih sulit lagi. Meski mendendangkan lagu “Aku Bukan Pilihan”-nya Iwan Fals pun nyatanya saya tak lagi dipilih oleh yang pernah memilih saya. Dan saya pun memilih untuk menyelamatkan diri sendiri.

Membangun kembali rasa aman dan benteng pertahanan diri yang sempat jebol jauh lebih sulit daripada memperbaiki tanggul jebol karena banjir. Dan justru salah satu momentum pembelajaran hidup yang menghampiri baru-baru ini adalah saat saya bertemu teman lama yang sudah sekian tahun tak bertemu. Tuhan membukakan mata saya bahwa meski saya merasa tidak banyak memperbaiki diri, ternyata saya sudah menjadi pribadi lebih baik.

Apa sebabnya? Karena saya bertemu teman yang sangat sinis dan hobi mencibir. OMG! Saya seperti melihat saya beberapa tahun lalu!

Dan ini ternyata memang terkait dengan keikhlasan dan perbaikan akhlak. Tanpa dua itu, niscaya kita akan selalu melihat kekurangan di semua hal dan keburukan di setiap orang. Padahal, dunia ini indah. Dan Tuhan menciptakan segala sesuatu sesuai proporsinya. Apa yang terlihat buruk itu juga ciptaan Tuhan. Dan justru ketidaksempurnaan itulah ciri dunia ciptaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta.

Saya tahu, justru di saat saya menuliskan hal-hal semacam ini, justru manfaatnya lebih besar sebagai “self therapy” bagi diri sendiri. Kalaupun ada LifeLearner yang membaca dan merasa “dapat sesuatu”, alhamdulillah. Tapi hati-hatilah bila Anda membaca artikel semacam ini dan malah sinis apalagi mencibir. Itu berarti ada “sesuatu yang salah” dengan hati Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s