Keteladanan

Hari ini saya membaca di harian Seputar Indonesia (p.16) tentang Menteri Negara Transportasi Inggris Simon Burns yang naik kereta api dalam perjalanan dari rumahnya di Essex ke kantornya di Westminster. Tindakan ini dilakukannya setelah ia dikritik karena menaikkan harta tiket kereta api dalam kota sebesar 4,2 %. Sementara, Burns sendiri malah naik mobil dinas yang disopiri dengan anggaran tahunan mencapai 80.000 poundsterling. Juru bicara komunitas pengguna kereta api Ingggris –Railfuture- menyebutkan bahwa akan sangat bagus ketiak orang yang menaikkan harga tiket merasakan bagaimana rasanya naik kereta. Dan Burns pun akhirnya menyerah pada sindiran itu, walau tetap tak mencabut kebijakan  menaikkan harga tiket.

Di sini, kita melihat Jokowi sang Gubernur DKI Jakarta menjadi fenomena. Mantan Walikota Surakarta itu rela berhujan-hujan menunggui perbaikan tanggul Kanal Banjir Timur yang jebol di jalan Latuharhary. Meski tidak ikut bekerja, tapi ia menunjukkan diri sebagai pemimpin yang mampu turun langsung saat ada masalah di bawah.

Apa yang dilakukan Jokowi merupakan satu bentuk keteladanan. Meski bagi pembencinya, itu bisa disebut sekedar pencitraan. Waktu jualah yang akan membuktikan tingkat ketulusan hati seorang Jokowi.

Saya sendiri baru saja kecewa pada pimpinan tertinggi di kantor tempat saya bekerja karena seperti kemarin saya tuliskan, ia sama sekali tidak menunjukkan kepedulian pada bencana banjir. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk minimal mendo’akan para korban banijr. Apalagi sampai merogoh kantongnya yang tebal untuk menyumbang. Padahal, kantor pusat salah satu lembaga kemanusiaan terkemuka berada di salah satu lantai gedung miliknya yang amat dibanggakannya.

Saya sendiri merasa amat sulit melaksanakan prinsip keteladanan ini. Sebagai pimpinan di sebuah divisi, saya masih merasa berat bila harus mengambil-alih pekerjaan anak buah saya yang tidak beres. Apalagi kinerja itu tidak dihargai selayaknya oleh pimpinan. Mungkin saya traumatik karena di masa lalu saya pernah mengalami hal semacam.

Hanya saja bedanya, kini saya menganggap tiap pengalaman hidup adalah obat, orang yang meremehkan dan menghina saya adalah dokter dan susternya serta  tempat saya berkarya adalah rumah sakit. Mereka justru sedang diutus Tuhan untuk menyembuhkan saya yang sakit. Seperti kata Nietzsche yang selalu saya ulang-ulang di benak: “What doesn’t kill you only make you stronger”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s