Banjir Jakarta

Beberapa hari ini mengerikan buat saya. Kenapa? Karena terbetik berita bahwa Istana Merdeka sudah kebanjiran. Dan, pengalaman tahun 2007 mengingatkan saya, bahwa biasanya tak lama setelahnya rumah-kantor saya di kawasan Manggarai akan dihantam banjir. Maka, saya pun pontang-panting menyelamatkan barang-barang di sana.

Saya benar-benar seperti “kehabisan waktu”. Diburu oleh air bah yang bisa datang sewaktu-waktu. Maka, seusai rapat pimpinan di kantor orang lain tempat saya bekerja sekarang, saya pun menuju rumah-kantor saya sendiri dan bergegas mengevakuasi barang-barang. Dan tentu yang menjadi prioritas saya adalah dokumen yang bagi orang lain cuma kertas tak berharga.

Dalam semalam, saya bisa bolak-balik dua kali menempuh jarak Manggarai-Bekasi. Total, tak kurang dari delapan kali bolak-balik untuk menyelamatkan aset vital kantor saya. Saya harus membatasi diri untuk tidak ngoyo semata karena waktu sudah tengah malam.

Alhamdulillah, ALLAH SWT masih berbaik hati kepada saya. Rumah-kantor saya bisa dikosongkan sebelum air datang. Dan mudah-mudahan malah air bah tak akan pernah datang. Karena bagaimanapun, membersihkan kotorannya itu sangat memakan waktu. Mengingat kembali memori 2007, lumpur di lantai baru bisa bersih setelah dua minggu. Dan total pembersihan barang-barang baru bisa selesai setelah tiga bulan!

Walau begitu repotnya, namun saya harus memaksa diri bersyukur. Kenapa? Karena saya masih sangat beruntung. Banyak sekali keberuntungan yang saya dapatkan. ALLAH SWT sangat baik kepada saya dan itu tidak untuk diceritakan di sini. Saya kuatir menjadi sombong dan riya’. Seperti seorang motivator yang jumawa mengatakan “semua do’a saya selalu dikabulkan Tuhan.” Astaghfirullah.

Namun kalau melihat tayangan televisi saja, begitu banyak warga Jakarta lain yang tidak seberuntung saya. Mereka tidak punya tempat lain untuk mengungsi sehingga terpaksa tidur di tenda pengungsian. Harta benda yang ada pun banyak yang terpaksa ditinggal dan rusak.

Maaf-maaf saja, meski tetap harus simpati, tapi saya tidak begitu kasihan pada warga pemukiman mewah di utara Jakarta yang ikut kebanjiran. Bagi saya, mereka ikut andil dalam rusaknya ekosistem alam ibukota. Betapa tidak, pantai yang mestinya ditumbuhi hutan bakau sebagai benteng alami, malah ditimbun dan dijadikan perumahan mewah. Lagipula, meskipun rumah mereka kebanjiran, toh duit mereka di bank tidak. Karena itu mereka bisa mudah saja menginap di hotel membiarkan pembantu dan satpamnya menjaga rumah mereka.

Apa yang saya sedihkan adalah mereka yang tidak terkena banjir seperti tak peduli dengan saudaranya yang terkena musibah. Contohnya adalah kantor tempat saya bekerja sekarang. Karena tahun 2012 kemarin perusahaan mampu mencapai target, maka dalam rapat pimpinan pun diliputi suasana gembira bahkan disertai pemberian hadiah bagi beberapa orang berprestasi. Saya terus-terang heran karena dalam kredo perusahaan tercantum kata “peduli”. Peduli macam apa ya? Cuma teori atau pemanis bibir belaka?

Akhirnya, kita adalah kita di mata Tuhan. Kita di mata manusia dan kita menurut anggapan kita sendiri belum tentu benar. Dan memang Tuhan lebih tahu kita daripada kita sendiri.ban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s