Bisnis Apa Ya?

Itu pertanyaan paling sering diajukan oleh mereka yang berminat terjun ke dunia entrepreneurship. Apalagi biasanya semangat berapi-api pasca menghadiri seminar motivasi. Padahal, pertanyaan besarnya belum terjawab, yaitu “what next?” Apa setelahnya?

Saya cukup sering menghadiri seminar motivasi. Rasanya semua nama motivator terkenal yang ada di Indonesia sudah pernah saya hadiri seminarnya. Memang sih, ada perasaan “bersama-sama” saat ada di ruangan seminar, tapi pulangnya… sendiri lagi. Apa artinya? Hampir tidak ada yang menemani saat berjuang. Ya, saya tahu ada komunitas usahawan yang membentuk semacam kelas mentoring bahkan punya cabang di mana-mana. Saya juga mengikutinya. Tapi tetap saja, saat kita berbisnis, kita sendirian.

Maka, pertanyaan di atas sebenarnya mudah dijawab. Berbisnislah hal yang paling Anda kuasai, kemudian yang paling Anda sukai, dan tentu yang Anda punya akses sumber dayanya.

Pertama, untuk menjadi seorang entrepreneur kita harus berkaca dulu. Apa sih keahlian dan kompetensi kita? Jangan terlalu tergiur pada “hasutan” motivator bahwa keahlian bisa dilakukan orang lain. Itu betul hanya kalau kita punya banyak uang untuk menyewa keahlian orang lain. Saya rasa itu hanya model bisnis anak gedongan saja yang uang orangtuanya “tumbuh di pohon”. Setahu saya, setelah membaca biografi masing-masing, hampir semua orang sukses di dunia ahli di bidang masing-masing. Meski tak lulus Harvard, Bill Gates itu ahli komputer dan pemrograman. Microsoft Windows versi awal bahkan Microsoft Disk Operating System (DOS) itu dia ikut berkontribusi menulis baris-baris programnya. Warren Buffet juga pialang saham ahli, dia mampu melakukan perhitungan akurat terhadap deretan saham di papan bursa. Walau tentunya, seiring berjalannya waktu, bukan saja keahlian itu bisa didelegasikan, tapi mereka melakukannya bak intuisi saja karena sudah jadi kebiasaan. Ini sama saja dengan semua ketrampilan lain seperti naik sepeda atau menjahit. Awalnya belajar dan berlatih, tapi saat bisa sudah di luar kepala.

Kedua, pilih bisnis yang Anda sukai. Tapi ini tidak melulu berarti hobby. Minimal, Anda tidak akan bosan melakukannya berulang kali karena ini akan jadi keseharian Anda. Dan tentu saja tidak segan terjun langsung sendiri. Saya agak heran pada beberapa orang teman yang nekat terjun ke bisnis peternakan sementara ia bukan saja tak punya kompetensi atau keahlian, tapi juga tak punya cukup modal untuk membayar ahlinya. Namun yang paling parah, ia tak pernah terjun langsung ke bisnisnya. Ia bergaya bak Bob Sadino saat sudah jadi konglomerat. Padahal, Om Bob sendiri bercerita di awal bisnisnya ia bisa bangun jam tiga pagi memunguti telur ayam dan saat shubuh menjualnya sendiri ke pasar. Kalau Anda berbisnis peternakan dan tak punya modal banyak, harus mau belepotan lumpur dan tahi! Kalau tidak, bisa dipastikan bisnis Anda seperti nasib teman saya itu: bangkrut.

Ketiga, Anda harus punya akses sumber dayanya. Artinya, Anda tahu “cara main” dan “aturan main”-nya. Bahkan bila Anda punya uang sekali pun, jangan gampang tergiur bujukan orang lain untuk berinvestasi pada bisnis yang Anda tak tahu apa-apa tentangnya. Saya terus-terang trauma soal ini. Ayah saya berkali-kali dibohongi orang karena beliau nekat terjun ke bisnis yang beliau tak punya akses sumber dayanya. Ada yang penambangan pasir, ada yang peternakan, ada yang pengolahan kayu hasil hutan. Ratusan juta rupiah (saat US$ masih Rp 2.200) hilang begitu saja. Kalau saja beliau dulu tidak sembrono, tentu kehidupan keluarga kami bisa lebih baik daripada sekarang. (walau untuk kondisi sekarang pun saya masih bisa mengucapkan alhamdulillah). Ingat lho, sumber daya ini termasuk segala hal terkait bisnis Anda. Kalau Anda mau jadi petani misalnya, Anda harus tahu bagaimana mendapatkan bibit termurah, pupuk terbaik dan lahan tersubur. Begitu.

Jadi, pikirkan baik-baik akan berbisnis apa. Karena sebenarnya yang bisa menjawab itu Anda sendiri dan orang terdekat Anda. Bukan motivator atau ahli mana pun.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s