Perjalanan Hidup (1): Belajar dari film “The Hobbit: An Unexpected Journey”

The-Hobbit-An-Unexpected-Journey-Wallpapers-1920x1080-10

Semalam, saya menyaksikan film “The Hobbit: An Unexpected Journey” di bioskop. Menyaksikan filmnya adalah satu pengalaman tersendiri, apalagi saya menonton yang versi 3D-nya. Ciamik! Tapi sepulangnya dari bioskop sekitar jam 00:30 dinihari WIB, ternyata juga mengimbuhkan perenungan tambahan. Jadi, artikel kali ini akan dibagi menjadi dua bagian besar itu.

Pertama, soal filmnya. Saya sendiri sangat menyukai film yang diangkat dari novel karya J.R.R. Tolkien ini. Sutradara Peter Jackson kembali dipercaya menangani serial lanjutan dari trilogi “Lord of The Rings” ini. Seri “The Hobbit” ini sendiri rencananya juga akan dibuat trilogi. Dan saya masih saja kagum bukan hanya dengan jalan ceritanya, tapi terutama pada special effect-nya yang ciamik. Tapi bukan soal filmnya yang akan saya ulas di sini. Karena ulasan soal film akan segera ditulis di situs “Resensi-Bhayu”.

Apa yang saya sangat ngeh dari film itu adalah kata kunci: perjalanan atau journey. Ya. Hidup adalah sebuah perjalanan. Bilbo Baggins yang jadi tokoh sentral film ini tak pernah siap pada perjalanan yang akan dihadapinya. Suatu perjalanan yang kelak akan membuatnya jadi legenda. Padahal, awalnya ia justru mati-matian menolak melakukan perjalanan.

Ini mirip sekali dengan kita bukan? Seringkali kita menolak suatu kejadian dalam hidup yang menghampiri kita. Padahal, itu adalah takdir. Dan saat kita tolak, momentum pun berlalu. Padahal, andaikata kita berani mengambil kesempatan, niscaya akan mengubah arah hidup kita.

Dalam film tersebut, Bilbo Baggins sempat menolak karena berpikir selain tidak kompeten untuk tugas yang akan diberikan, juga ia tidak mau meninggalkan “zona nyaman”-nya. Bangsa Hobbit adalah bangsa yang hidup sangat aman, damai dan nyaman. Mereka makan delapan kali sehari dan tinggal di desa yang indah. Nyaris tidak ada pertengkaran kecuali soal-soal kecil saja seperti adanya kerabat yang mencuri sendok perak.

Ketika Gandalf “The Grey” alias Mithrandir “memaksa”-nya, Bilbo tidak sadar. Gandalf memberi tanda di pintu rumahnya agar tamu-tamu dari bangsa Dwarf  bisa mengenali saat mencari rumah tempat pertemuan. Mereka adalah 12 ksatria Dwarf yang terusir dari tanah airnya, Erebor. Nah, di sini ada satu hikmah lagi. Meski terpaksa, Bilbo tetap melayani tamu-tamunya yang menghabiskan stok makanannya dan mengotori rumahnya. Dan ke-12 ksatria tadi ternyata berniat mengajak Bilbo menjadi anggota ke-14 dari kelompok mereka (Gandalf adalah yang ke-13).

Dari kejadian ini, kita bisa melihat bahwa saat tiba-tiba terjadi sesuatu hal mendadak yang mengusik zona nyaman kita, biasanya kita resisten. Kita menolak untuk “move on”. Padahal, justru itu cara Tuhan untuk membuat kita memenuhi “calling” atau “panggilan jiwa buana” (mengutip istilah Paulo Coelho di novel The Alchemist).

Keberanian melangkah keluar zona nyaman inilah yang sebenarnya ditantang dari setiap insan. Mencoba hal-hal baru. Menaklukkan segala tantangan.

Keraguan pasti ada. Seperti halnya Bilbo Baggins yang sempat menolak mentah-mentah. Hingga kemudian beberapa di antara para ksatria Dwarf kecewa. Saat mereka semua pergi dari rumahnya yang kembali sepi, barulah Bilbo Baggins sadar telah membuat kesalahan. Ia segera berlari mengejar rombongan yang telah meninggalkan Shire, desa tempat tinggal para Hobbit. Bilbo “tercerahkan” dan dengan gembira menghadapi perjalanan yang tak diharapkannya.

the-hobbit_2422493b

Dan keputusan itu ternyata tepat. Karena dengan berani melangkah pergi meninggalkan desanya (satu hal yang hampir tak pernah dilakukan bangsa Hobbit), Bilbo Baggins memenuhi panggilan takdirnya: menjadi legenda. Ini bisa dibandingkan dengan para perantau yang biasanya lebih sukses daripada kerabatnya yang memilih bertahan di tanah kelahiran.

Kenapa?

Karena di tanah perantauan bahkan selama perjalanan, para pejalan ditempa dengan sangat keras. Bahkan untuk bertahan hidup saja sulit. Mereka harus mampu menaikkan harkatnya langkah demi langkah. Seperti di film ini pun perjalanan yang diawali dengan optimisme harus didera rasa pesimis di tengah perjalanan. Ini karena banyaknya rintangan yang menerpa, bahkan membahayakan hidup. Seperti halnya perjalanan hidup juga tak akan pernah mudah. Bahkan hidup orang sukses yang di media massa terkesan mudah pun bisa tiba-tiba dihantam masalah. Coba saja lihat apa yang menerpa putra seorang menteri yang kagak ade ujan kagak ade angin, ujug-ujug menabrak orang sampai meninggal dunia. Padahal, kelimpahan materi dan fasilitas melingkupi hidupnya.

Masalah itu terungkap karena yang bersangkutan adalah anak dari public figure. Padahal 99,99 % kita justru bukan. Orang-orang kaya yang rumahnya di kawasan Pondok Indah belum tentu hidupnya selalu indah kan?

Kembali ke soal perjalanan hidup, tujuan kita adalah mencari “panggilan jiwa buana” masing-masing. Setiap orang berbeda. Jadi, tidak bisa asal mencontek apalagi sekedar mengikuti kisah sukses yang dijual para motivator. Asal tahu saja, sebagian terbesar manusia gagal memenuhi hal ini hingga kematiannya. Mereka mati sia-sia. Tentu, hidup mereka lebih sia-sia lagi. Perjalanan hidup mereka gagal total. Kenangan tentang mereka hilang seiring memudarnya tulisan nama mereka di batu nisan yang melapuk.

Indikasinya cukup dengan pertanyaan sederhana: siapa yang masih ingat pada kita satu dekade setelah kematian kita selain kerabat dekat?

Foto:  filmophilia.com (atas), telegraph.co.uk (bawah)

 

Kunjungi RESENSI-BHAYU untuk membaca resensi lainnya

(klik nama situs di atas atau klik gambar di bawah ini)

visit resensi-bhayu com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s