Ramalan vs Forecasting

Di awal tahun begini, di masyarakat kita yang aneh (karena mengaku up-date teknologi tapi masih sangat percaya mistis) biasanya muncul pemberitaan mengenai ramalan. Yeah, ramalan apalagi kalau bukan dari paranormal. Saya sendiri agak malas menyebut mereka paranormal. Kenapa tidak straight saja menyebut mereka dukun?

Mereka biasanya berkoar-koar tentang apa yang akan terjadi tahun ini. Coba deh, kalau ada yang rajin mencatat, sebagian besar ramalan mereka sebenarnya meleset. Lucunya, kalau ada satu atau dua saja yang “kena” atau “nyerempet-nyerempet”, mereka akan menggembar-gemborkannya. Padahal, kalaupun dibilang tepat, juga tidak tepat benar. Kenapa? Karena bahasa atau kalimat yang mereka gunakan “bersayap”. Misalnya dia mengatakan, “akan ada tokoh besar yang meninggal dunia” atau “akan ada bencana besar di Indonesia”. So, banyak yang bisa dikaitkan dengan kalimat itu bukan? Lagipula, kapan sih ada tahun dimana tidak ada tokoh meninggal atau bebas bencana sama sekali?

Nah, di dunia bisnis atau pekerjaan, biasanya kita juga membuat ramalan. Mungkin lebih tepat disebut prediksi, yang dituangkan dalam “business plan”. Ini kemudian bisa di-“break down” menjadi program kerja tahunan. Bahasa teknis untuk prediksi atau ramalan ini adalah “forecasting”.

Meski sama-sama menggunakan asumsi, tapi tentu saja “forecasting” lebih ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Ia menggunakan data dan perhitungan agar asumsinya tidak “melompat”.

Menurut Steve Marjoram, Associate Director in the East Midlands di RSM Tenon, sebuah konsultan bisnis di Inggris, ada sejumlah elemen kunci untuk “forecasting”. Di sini saya meringkaskan dalam bentuk pointers agar lebih mudah bagi LifeLearner:

  • Isi. Di dalam model peramalan harus terdapat neraca termasuk untung-rugi dan analisa arus kas (cashflow) bisnis kita.
  • Up to Date atau Mutakhir. Data yang disajikan merupakan data paling baru yang bisa diakses secara real time.
  • Realistis. Harus sesuai dengan realitas, bahkan kalau memang harus pesimis sekalipun. Tidak boleh terlalu bombastis atau menunjukkan optimisme berlebihan.
  • Membatasi Faktor Variabel atau Yang Berubah-ubah. Hal ini berarti meletakkan kontrol di tangan kita dan tidak membiarkan pihak lain mempengaruhi bisnis kita. Biasanya, hal-hal semacam regulasi pemerintah atau malah piutang pihak ketiga termasuk dalam variabel.
  • Break Even Point atau Titik Impas. Model peramalan bisnis yang baik mampu menghitung kapan angka ini dapat tercapai sehingga bisa dilakukan upaya maksimal meraihnya.
  • Kinerja Aktual. Bagaimanapun bagusnya peramalan, kalau kinerja aktual tidak memadai jelas tak akan bisa tercapai. Faktor ini perlu diketengahkan agar semua pihak terkait terutama pemegang saham dapat memahami kondisi kinerja perusahaan.
  • Key Performance Indicators. Anda harus menetapkan Indikator Kinerja Kunci secara spesifik untuk tiap area kerja. Hal ini agar pengukuran dapat lebih akurat.
  • Fleksibilitas. Karena tak ada yang pasti di dunia, termasuk dalam bisnis, maka harus diletakkan ruang untuk perubahan. Misalnya terjadi fluktuasi harga saham atau kegagalan mencapai gross profit margin, apa tindakan perusahaan untuk mengantisipasinya.

Demikianlah sekedar catatan untuk “forecasting”. Jelas sekali berbeda dengan ramalan dukun yang asal njeplak bukan?😉

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s