Ikhlas

Surat Al-Ikhlas adalah salah satu surat terpendek dalam Al-Qur’an. Ia masuk dalam kategori Juz Amma’ atau bagian penutup kitab suci. Hampir semua anak SD beragama Islam akan menghafal surat ini lebih dulu dibandingkan surat-surat lainnya. Bisa jadi kedua setelah Al-Fatihah yang merupakan surat pembuka atau pertama dalam Al-Qur’an.

Kata “ikhlas”  ini juga begitu mudah dilafalkan sehingga seolah juga mudah dilaksanakan. Padahal, justru di sinilah kunci ketauhidan sebagai landasan dari agama Islam. Soal ini akan saya terangkan lebih lanjut dalam buku yang sedang saya tulis.

Namun, saat ini, saya hanya hendak menegaskan bahwa “ikhlas” itu justru sebuah pilihan. Ia beda dengan “pasrah” yang menyiratkan sebuah kondisi terpaksa.

Misalnya kita memiliki sebuah barang yang kemudian hilang. Itu bukan ikhlas, tapi pasrah. Kenapa? Karena kecil kemungkinan barang itu ditemukan kembali. Akan tetapi apabila kita memiliki sesuatu barang kemudian kita berikan secara sukarela pada seseorang tanpa paksaan, padahal kita punya pilihan untuk tidak memberikannya, itu baru ikhlas. Lebih ikhlas lagi bila tidak ada yang tahu saat kita memberikan. Dan paling tinggi nilainya justru saat yang kita berikan juga tidak tahu. Itu baru pol!

Ikhlas memang seringkali dikaitkan dengan pemberian seperti sedekah. Tapi sebenarnya ikhlas merupakan kondisi hati, pikiran dan jiwa seseorang. Saat ia punya pilihan lain, ia memilih yang tidak dipilih orang lain. Pilihan yang menggambarkan kerendah-hatian dan ke-zuhud-an. Ikhlas juga termasuk bersedia tunduk-patuh pada yang memang pantas kita patuhi. Siapa dia? Tuhan.

Seringkali kita mengaku beriman, tapi tidak ikhlas diperintah oleh-Nya. Seperti kaum perempuan yang mengaku meneladani Rasulullah tapi menolak poligami. Seharusnya, mereka tahu bahwa poligami secara fiqh memang dibolehkan. Hanya saja, memang syaratnya berat. Dan di sinilah lelaki juga harus ikhlas. Bila mereka tidak mampu memenuhi syaratnya, jangan memaksakan. Bohong kalau ada lelaki bilang mengikuti sunnah Rasul tapi menikahi istri kedua yang gadis belia, seksi, cantik dan kaya (atau salah satu aspeknya saja). Kalau memang betul mau meneladani Rasul, seharusnya yang dinikahi adalah janda tua, jelek dan miskin.

Jadi, memang kata “ikhlas” mudah dituliskan dan dilafalkan. Tapi sungguh sulit diamalkan. Saya sendiri mengalaminya. Semoga Anda lebih baik daripada saya, LifeLearner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s