Kecelakaan & Maut

Duh, bicara dua hal itu rasanya mengerikan ya? Mungkin, malah lebih baik tak usah dibicarakan. Tapi nyatanya, dalam hidup kita bisa saja berhadapan dengan yang pertama. Baik kita alami sendiri maupun menimpa sanak-kerabat kita (naudzubillah min dzalik). Sementara yang kedua, pasti menimpa siapa saja yang berjiwa.

Tadi pagi, seorang rekan kerja dalam morning briefing mengingatkan tentang hal itu. Ia bercerita bahwa rekannya yang akan menikah tiba-tiba terjatuh saat sedang bersamanya. Saat dibawa ke rumah sakit, jiwanya tak tertolong. Dokter menyatakan yang bersangkutan terkena penyakit jantung. Saya dalam hati menduga itulah yang dinamakan serangan penyakit jantung koroner (angina pectoris). Yang lebih merepotkan lagi, temannya itu baru saja masuk Islam dan menjadi mu’allaf karena akan menikah tadi. Sementara, keluarganya malah belum tahu.

Dalam soal itu, saya malah iri padanya. Karena dalam Islam, siapa pun yang berpindah agama dari agama lain masuk ke dalam agama Islam, maka semua dosa sebelumnya dihapuskan. Maka, niscaya yang bersangkutan bak bayi baru lahir. Masih suci dari noda.

Semalam, sekitar jam dua pagi, melalui linimasa Twitter @TMCPoldaMetro saya membaca adanya kecelakaan lalu-lintas di jalan Ampera Raya, Kemang. Saya kaget karena dua hal. Pertama, jalan itu adalah daerah di mana orangtua AMP (cinta pertama saya, tapi bukan pacar pertama lho) tinggal. Dan kedua, mobil yang terlibat kecelakaan adalah Nissan Grand Livina, mobil jabatan milik YPP, pasangan terakhir saya. Tapi saya cepat menenangkan diri karena YPP tidak sedang berada di Jakarta saat ini. (Setidaknya, itu yang saya tahu menurut pengakuan ybs).

Makin jelas saat di pagi hari ternyata pengemudi yang menabrak tadi adalah seorang pria. Kecelakaan itu mengerikan karena mirip dengan tragedi Tugu Tani pada bulan Januari lalu (baca kembali pendapat saya tentang kejadian itu di sini). Saya stop membahas soal kecelakaan semalam sampai di sini.

Saya hanya hendak menyoroti bahwa satu-satunya hal yang pasti dalam hidup justru cuma mati. Ironis ya? Kita tidak tahu akan hidup seperti apa dan apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Hanya satu yang kita tahu pasti, satu saat kita pasti menemui maut.

Kalau Anda tidak percaya Tuhan, atau kurang patuh dalam beragama, mungkin ini tak perlu dirisaukan. Teruskan saja hidup Anda. Dugem itu asyik kok. Apalagi minum minuman keras. Pesta-pesta.

Tidak apa kok melupakan bahwa kita bisa mati tiba-tiba. Serangan penyakit jantung koroner tadi cuma salah satu “cara mati” saja. Kalau Anda pernah menyaksikan seri film bioskop Final Destination, niscaya akan tahu bahwa segala hal bisa berujung pada maut.

So, bukasn hendak menakut-nakuti, tapi sekedar mengingatkan saja. Bahwa kuasa Tuhan akan kematian sangat luar biasa. Itu hak prerogatif-Nya. Dan sebagai pemegang hak atas maut, tentu tak perlu Sang Maha Hidup sampai perlu-perlunya menderita untuk mengalahkannya kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s