Harpitnas

Tahun ini, saya bekerja di sebuah perusahaan yang “sangat irit hari libur”. Saya tidak mengeluh, hanya bercerita. Bahwa di perusahaan ini kecuali tanggal merah dan libur bersama Hari Raya Idul Fitri, libur lainnya tidak dianggap. Libur bersama akhir tahun dianggap tidak ada, bahkan Pilkada DKI Jakarta yang seharusnya diliburkan pun diharuskan tetap masuk. Untungnya meski ada absen yang aturan formalnya lumayan ketat (dengan fingerprint), posisi saya memungkinkan untuk “mengatur jadwal”. Jadi, karena harpitnas (hari kejepit nasional), saya bisa datang agak siang.

Apalagi, semalam saya mendapatkan kabar akan terjadi banjir besar di Jakarta. Karena salah satu properti saya berada di daerah banjir, maka tadi pagi ba’da shubuh saya pontang-panting melakukan evakuasi. Ini terutama karena trauma pada banjir besar di tahun 2007 yang menyebabkan kerugian cukup besar bagi saya karena mengabaikan peringatan dini. Kini, mendingan capek daripada kecolongan.

Tapi, di akhir 2011 dan awal 2012 lalu pun saya panik akan hal serupa. Maka, saya harus mencari solusi. Karena properti tersebut adalah amanah orangtua yang harus saya jaga, maka satu-satunya cara adalah memindahkan semua barang ke lokasi yang bebas banjir. Kebetulan ada satu properti saya di kawasan lain Jakarta yang jelas bebas banjir. Jadi, rencananya semua barang di lokasi yang rawan banjir akan saya pindah sementara sampai saya menemukan solusi lebih baik. Memang agak repot, tapi mending sekali repot daripada berkali-kali bolak-balik evakuasi kan?

Kini, kondisi saya lebih buruk daripada di tahun 2007. Saya tidak punya seorang pun yang membantu saat evakuasi. Meski dari segi lain seperti keuangan jelas lebih baik, namun tidak ada tenaga manusia yang membantu. Maka, jika dahulu saya bisa mengerahkan dan meminta tolong beberapa orang untuk membantu, kini nol. Maka, saya pun terpaksa jadi “lone ranger” dan bergerak cepat bak prajurit komando. Kuatir keduluan banjir.

Kembali ke soal “harpitnas”, ternyata kantor saya ini etos kerjanya hebat. Tidak ada pegawai yang bolos walau ada beberapa yang seperti saya. Bertahun-tahun saya berpola kerja berangkat siang dan pulang kerja larut malam. Jadi, di perusahaan milik orang lain tempat saya menjadi leader di salah satu anak perusahaan ini saya memang agak sulit menyesuaikan diri. Toh, saya harus ingat pada masa-masa dimana saya dididik sebagai Paskibraka yang penuh disiplin. Saat itu, jam lima pagi kami sudah harus siap di lapangan untuk apel pagi! Tentu saya bisa mengulanginya lagi kini. Insya Allah.

Saya bertekad untuk “lahir baru”. Dengan mengambil momentum Natal yang jatuh besok. Walau saya tidak merayakannya, namun “seseorang di hati saya” merayakannya. Bila di tahun-tahun sebelumnya saya ikut ke Solo tempat orangtuanya berada, sejak tahun lalu tidak lagi. Semoga Tuhan berkenan memberikan kedamaian, baik di hati maupun hidup saya dan juga hidupnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s