Penyadaran Dari Tuhan

Dalam acara Mario Teguh Golden Ways malam ini, ada sebuah polling yang menarik. Ditanyakan, manakah yang menurut responden-penonton di studio paling menyakitkan:

  1. Dikhianati oleh rekan bisnis
  2. Dikhianati oleh pasangan hidup (cinta kekasih)
  3. Dikhianati oleh pemimpin

Dan ternyata, suara terbesar jatuh ke nomor dua. Jauh meninggalkan nomor satu dan tiga. Padahal, yang efeknya paling besar justru nomor tiga. Mungkin hal itu karena tidak semua orang pernah merasakan yang nomor satu. Sementara untuk nomor tiga tidak terlalu terasa karena dampaknya kolektif.

Namun, menurut Mario Teguh, hal itu dikarenakan kita semua cenderung “selfish”. Bila suatu masalah tidak mengenai kita secara pribadi, kita cenderung sulit peduli. Karena itulah, orang-orang yang diberi amanah besar oleh Tuhan justru orang-orang yang tidak memikirkan diri sendiri melainkan lebih banyak memikirkan orang lain atau bangsa. Saya langsung terperangah. That’s it!

Buat apa jadi mayoritas yang cuma anggota kawanan “domba-domba” saja? Bukankah lebih baik jadi “penggembala”-nya? (maaf saya meminjam terminologi khas Kristiani karena ini dalam nuansa “X-Mas Spirit”).

Maka, dalam akhir pekan kemarin, saya terasa dimanjakan oleh Tuhan dengan berbagai penyadaran. Saya tambah terperangah, kenapa saya yang “anak nakal” ini justru mendapatkan begitu banyak “pemanjaan” dari Tuhan? Rupanya, jawabannya adalah karena saya sudah seharusnya berhenti memikirkan diri sendiri dan mulai bertindak untuk orang lain dan bangsa. Saya mendapatkan “penyadaran dari Tuhan” lewat berbagai cara dan momentum yang bisa jadi dianggap orang lain “biasaa aja.”

Kenapa saya bisa”pingsan” selama bertahun-tahun ya? Dulu, salah satu orang yang saya cintai yaitu AMP pernah bertanya, “Kalau lihat CV-mu, dulu kamu pernah berprestasi. Tapi kok ada titik dimana kamu sudah berhenti?” Saya saat itu baru meraba jawabnya. Tapi kini saya sudah “tercerahkan”. Bahwa selama ini saya memang mengalami masalah psikologis berat di masa kanak-kanak saya, tapi itu sudah seharusnya dilompati. Saya yang selalu mengharapkan pujian dan pengakuan dari orangtua saya kini tak lagi mengharapkan itu. Karena hingga kini, apa pun yang saya lakukan tak pernah cukup buat mereka (Dalam bahasa AMP: “Biar kamu jadi Presiden sekali pun gak bakal dianggep sama mereka.”). Tanpa mengesampingkan dan melupakan jasa-jasa mereka, tekanan psikologis dari mereka saya rasakan seberat yang dirasakan dan dialami oleh Billy (Baca: 24 Wajah Billy yang di Indonesia terjemahannya diterbitkan Mizan). Dua orang yang saya cintai itu (AMP dan YPP) tahu bagaimana saya berjuang melawan keterpecahan integritas pribadi, hingga imbasnya melukai mereka yang paling saya cintai dan dekat dengan saya: pasangan hidup saya.

Kini, saat beberapa waktu lalu saya bergabung sebagai leader di perusahaan milik seorang motivator berpenghasilan terbesar di Indonesia, alhamdulillah saya bisa bungah. Kenapa? Karena di salah satu kesempatan leader’s meeting, seorang leader yang pernah menjadi orang kepercayaan salah satu orang terkaya di Indonesia memuji saya: “Kami semua kagum saat membaca CV Anda. Dan kami yakin Anda akan sukses di sini!”

alhamdulillahirabbil’alamiin.

Tuhan, izinkanlah Bhayu mengubah semua. Izinkan hambamu Bhayu yang hina ini berbuat lebih baik bagi bangsa Indonesia yang dicintainya ini.

aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s