Karir, Pekerjaan, dan Passion

Saya sedang mempersiapkan sebuah buku yang menjawab mengenai ketiga hal yang jadi judul di atas. Sebenarnya, sudah ada beberapa buku yang menjelaskan mengenai hal itu. Seperti buku karya sahabat saya Rene Suhardono yang berjudul “Your Job is not Your Career”.  Namun, saya tergelitik pada banyak hal di buku itu. Juga buku karya seorang perencana keuangan bernama Ligwina Hananto berjudul “Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin”.

Di dua buku itu, penulisnya menyarankan kita agar mengejar passion dalam mencari uang. Ini bisa diartikan sebagai “gairah” atau yang membuat kita “ceumungut” dalam hidup. Biasanya, ini terkait dengan kesukaan atau hobby kita.

Masalahnya, apa yang menjadi hobby kita belum tentu bisa diuangkan. Misalnya ada teman saya yang sangat jago masak, tapi dia malah tak mau jadi koki atau membuka usaha tempat makan. Ia merasa tidak punya keinginan ke sana. Lebih parah lagi kalau hobby kita ternyata memang tidak menjual. Sebutlah makan enak atau nonton konser. Berapa orang yang lantas bisa menguangkannya misalnya menjadi kritikus atau peresensi terkemuka?

Dan sayangnya, masih banyak yang bekerja cuma untuk “memperpanjang nafas” saja. Artinya, semata untuk mata pencaharian agar bisa bertahan hidup di dunia. Bekerja dari pagi hingga malam selama bertahun-tahun dan tiba-tiba tanpa disadari sudah masuk usia pensiun. Sementara ia malah masih belum tahu apa manfaat dirinya selama bekerja selain untuk “memperpanjang nafas” saja.

Selain itu, saya sendiri melihat ada “social gap”. Kedua penulis buku di atas adalah mereka yang berasal dari golongan atas atau “the have”. Jadi, memang sebenarnya mereka bisa “pilih-pilih pekerjaan”. Sementara, justru mayoritas kita termasuk golongan “kerja apa aja deh, yang penting kerja”. Bahkan, saat kita termasuk lulusan perguruan tinggi favorit dan punya karir bagus sekalipun, seringkali itu bukanlah passion kita.

Contohnya justru dua orang yang pernah begitu saya cintai. Mereka hebat di bidang pekerjaan masing-masing. Tapi, tetap saja ada keluhan karena banyak hal. Padahal, sebenarnya mereka bekerja di bidang yang semula adalah passion mereka. Sementara, baik Rene maupun Ligwina menggambarkan bila kita memang punya pekerjaan yang benar-benar kita cintai, bekerja tidak terasa seperti bekerja, melainkan seperti bermain saja.

So. saya yang bukan berasal dari kelas sosial yang sama dengan Rene dan Ligwina merasa perlu menjembatani “gap” tadi. Ada saatnya kita harus mendahulukan pekerjaan, ada waktunya kita mengejar karir, tapi kita tetap harus tahu passion kita. Semata agar kita tidak mati sia-sia. Itu saja.

One response to “Karir, Pekerjaan, dan Passion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s