Hidup Di Saat Mati

Seperti saya tuliskan kemarin, saya menonton “Life of Pi” semalam. Film ini dipuji banyak kritikus karena secara filmografi, jalan cerita dan teknologi CGI melebihi harapan (beyond expectation). Menyaksikannya bak menyaksikan “Avatar” (2009) yang menampilkan keindahan gambar dan tata-warna luar biasa.

Dalam tulisan ini, saya justru hendak mengulas soal “hidup di saat mati”. Apa yang ditampilkan di film tersebut menggambarkan bagaimana makhluk hidup berjuang untuk hidupnya. Karena selama di perjalanan terlunta-lunta di lautan pasca karamnya kapal yang ditumpangi, Pi tidak sendirian. Ia ditemani oleh seekor zebra, seekor orang utan bernama Orange Juice dan seekor macan Bengali bernama Richard Parker. Hanya sang macan yang bertahan hidup karena ia memangsa dua hewan lainnya. Dan sepanjang jalan, Pi pun terpaksa “mengalah” kepadanya karena kuatir dimangsa.

Keduanya akhirnya sekarat, dan di saat inilah muncul momen “hidup di saat mati”. Di saat dimana seolah tiada lagi harapan, justru di situlah ada harapan terbesar. Dalam istilah Pi, “justru di saat Tuhan seolah mengabaikan kita, Ia justru sedang menjaga kita”.

Bagi Anda yang pernah menjadi pecinta alam atau minimal menempuh perjalanan jauh tanpa kenyamanan mewah seperti menjadi backpacker, akan tahu betapa besarnya kuasa Tuhan. Saya sendiri pernah menjadi pendaki gunung amatir, dan saya ingat betapa saya merasa amat kecil dan ciut saat shalat Shubuh di bawah air terjun. Bukan cuma menggigil kedinginan usai berwudhu, tapi juga merasa gemetar mendengar “suara hutan” saat kita sendirian. Terasa sekali bahwa kita, manusia, dengan segala pencapaian teknologi yang kita banggakan ternyata tak berarti apa-apa di hadapan alam. Padahal, alam itu cuma satu saja kekuasaan Tuhan lho.

Seperti Pi, saya juga pernah nyaris mati tenggelam. Saat itu tahun 1994, peristiwanya saat inisiasi mahasiswa baru. Saya diceburkan ke kolam renang sedalam lima meter oleh para senior dengan mata tertutup di malam hari. Saya ditempatkan di kolam terdalam karena saya adalah ketua angkatan. Karena panik dan saat itu saya belum bisa berenang, tak urung tubuh saya tenggelam. Saya akhirnya diselamatkan seorang senior saya bernama Deden Edi Priatna. Ia yang (saat itu) bertubuh kurus justru berhasil menyelamatkan saya saat dua orang lain yang berbadan lebih besar gagal. Saya ingat sekali saat itu saya sudah sangat pasrah dan mengucapkan kalimat mirip dengan Pi “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu. Aku ikhlas…”. Saya sudah melihat “dunia lain” saat itu. Justru di saat itulah Deden menyambar tubuh saya dan berhasil menarik saya keluar dari kolam renang.

Terus-terang, dengan pengalaman saya akhir-akhir ini, saya merasa hidup tak lagi ada harapan. Saya membuat kesalahan nyaris sama dengan tujuh tahun lalu. Dan seperti baris pertama dari lagunya Noah “Separuh Aku”: “Dan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali”. Saya merasa tak perlu lagi melanjutkan hidup. Tapi justru di saat inilah saya mendapati momentum “hidup di saat mati”. Di saat seharusnya saya sudah menyerah pada hidup, justru muncul pertolongan dan harapan baru. Dan film “Life of Pi” semalam mengingatkan kembali pada hal yang sudah nyaris saya lupakan: bahwa hidup begitu indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s