Mahalnya Harga Tidur

Tidur terasa mudah. Bagi yang tidak punya masalah. Sebagian terbesar masalah atau gangguan tidur sebenarnya berasal dari pikiran atau problema psikologis. Artinya, meskipun sebenarnya secara fisik tubuh butuh tidur, namun kalau pikiran tidak rileks ia akan memaksa mata untuk tidak terpejam.

Saya mengalami itu lebih dari setahun belakangan. Dalam satu malam mungkin maksimal saya bisa tidur empat jam. Namun rata-rata cuma bisa dua jam saja. Itu pun dengan diselingi terbangun tiap setengah-satu jam sekali. Di dalam tidur pun saya bermimpi buruk sehingga bangun dengan perasaan tidak segar.

Kondisi ini jelas tidak baik. Berbagai cara saya lakukan, mulai dari berolahraga, bekerja hingga larut malam dengan harapan akan lelah secara fisik, hingga minum obat tidur. Anehnya, semua tak bisa membuat saya tidur nyenyak. Saya sendiri bukan tipe “anak dugem” yang menghabiskan malam dengan begadang di klub malam. Jadi, saat tak bisa tidur, saya biasanya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan mulai nonton film hingga membaca buku.

Barangkali, ini bisa jadi tips bagi Anda semua yang mengalami masalah insomnia seperti saya. Apalagi Anda tipe yang sulit menerima kegagalan dan perfeksionis seperti saya juga. Ternyata, kuncinya adalah: “berdamai dengan diri sendiri”.

Kita cuma harus berkali-kali mengingatkan diri bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Bahkan, Tuhan tahu dan mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri.  Apa pun masalah yang terjadi pada kita, itu terjadi dengan seizin Tuhan. Maksudnya bukan untuk menyulitkan kita, apalagi untuk menghukum kita. Justru, masalah datang untuk memberikan pelajaran hidup. Sekali lagi, itu seperti ujian saat kita menempuh pendidikan. Apabila kita lulus darinya, maka kita akan “naik kelas” dalam hidup. Dan kita harus menerima keadaan “kalah” atau “gagal” sebangai sebuah cara Tuhan memberi kesempatan “remedial” atau ujian ulangan dalam hidup. Selama kita belum mati secara alamiah dan nanti malaikat memutuskan kita “tak layak” masuk surga, maka kita belum gagal.

Tidur yang terasa sederhana, terasa amat mahal saat kita ternyata tidak mampu memejamkan mata. Tak heran, secara alamiah Tuhan memang telah mengatur bahwa tubuh manusia memerlukan istirahat. Dan istirahat terbaik adalah tidur. Manusia menghabiskan 1/3 hidupnya untuk tidur atau sekitar 8 jam per hari. Dan secara kesehatan, itu memang diperlukan.

Tidur di kediaman sendiri mungkin juga baru terasa mahal saat kita harus tidur di tempat lain. Coba hitung, kalau kita harus menginap di penginapan, paling murah di hotel melati alias losmen sekitar seratus ribuan semalam. Kalau mau yang lebih murah mungkin ada seperti di hotel transit untuk para supir, tapi kondisinya tentu seadanya. Bayangkan mahalnya tidur kalau mau menginap di hotel dari bintang satu sampai bintang lima (di Indonesia maksimal berbintang lima, tapi di dunia ada hotel berbintang tujuh seperti Burj Al-Dubai).

Jadi, bagi LifeLearner yang bisa menikmati tidur dengan nyenyak, bersyukurlah. Percayalah, uang tak ada artinya saat tidur tak nyenyak. Karena ini pangkal dari berbagai masalah kesehatan lainnya. Sekali lagi, bersyukurlah. Terimalah semua sebagai kehendak Tuhan, maka niscaya kita bisa tidur dalam damai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s