Kepercayaan vs Pengkhianatan

Dalam perang, seorang pengkhianat sudah pasti dihukum mati. Tapi dalam kehidupan sebenarnya, tidak selalu begitu. Apalagi pengkhianatan pasangan hidup. Survei membuktikan bahwa kebanyakan mampu memaafkan dan mengampuni penngkhianatan pasangannya. Salah satu survei ini adalah yang dilakukan secara sederhana oleh acara Mario Teguh Golden Ways. Statistik perceraian di Indonesia juga relatif rendah, apalagi di kalangan kaum urban di perkotaan, kelas menengah-atas dan terdidik. Angka perceraian justru tinggi di pedesaan. Itu pun penyebabnya rata-rata masalah ekonomi. Jarang yang karena faktor kesetiaan.

Dulu, sewaktu SD dan sebentar saat SMP aktif di Pramuka, saya ingat bunyi “Dasa Dharma Pramuka” nomor 9 adalah “Bertanggungjawab dan dapat dipercaya”. Mengucapkannya mudah. Tapi pelaksanaannya sungguh sulit.

Saya sendiri belum tentu mampu melaksanakannya. Walau selama ini saya merasa cukup setia atau dapat dipercaya, tapi toh ada masa saya membuat pasangan saya menangis karena hadirnya wanita lain. Walau tak sampai sedalam itu hubungannya, tapi saya sendiri sempat menikmatinya. Tak heran, kalau kemudian ia membalasnya di kala ia sudah merasa kuat. Dahulu, sewaktu berangkat ke kantor bahkan saat ditugaskan di luar kota selama berbulan-bulan sekali pun, tiap pagi dan sore saya yang mengantarnya. Tapi, kini saat ia sudah mendapatkan promosi dan mendapatkan mobil jabatan, saya dibuangnya. Ironisnya, sayalah yang mengajarinya menyetir dan merawat mobilnya tiap hari. Justru bukti pengkhianatan itu antara lain saya dapatkan di mobil tersebut!

Ah, lupakan itu semua. Mari bicara hikmahnya. Tak guna rasanya bagi Anda berpayah-payah membaca “curcol” saya. Apa yang bisa peroleh dari pengalaman itu adalah, dusta niscaya berbuah dusta. Sayangnya, amanah alias menjaga kepercayaan belum tentu berbuah serupa. Lho?

Begitulah uniknya hidup digariskan oleh Tuhan. Kebaikan belum tentu berbalas kebaikan… dari manusia. Tapi, percayalah, kebaikan selalu berbalaskan kebaikan dari Tuhan. Betul.

Di sinilah pentingnya ikhlas. Saya sendiri hingga kini masih belajar soal ini. Ikhlas itu sulit sungguh. Dan keikhlasan paling sulit adalah menerima takdir Tuhan yang tak sesuai harapan kita.

Maka ketika kepercayaan yang kita berikan kepada seseorang berbuah pengkhianatan, baik itu dari pasangan hidup maupun rekan bisnis, percayalah, bahwa di situ Tuhan justru sedang menyelamatkan kita. “Pengkhianatanmu sekarang adalah penyelamatan masa depanku”, begitu ujar Mario Teguh berkali-kali. Saya percaya itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s