Dimensi Kematian

Semenjak awal peradaban manusia, kematian telah menjadi satu hal yang menakutkan. Manusia tahu, hanya kematian-lah yang pasti dalam hidupnya. Semua kepercayaan baik agama maupun non-agama mengetahui hal ini. Maka, kematian dipersiapkan dengan baik semasa hidup. Semua manusia tahu, bahwa kematian adalah akhir dari suatu kehidupan di dimensi dunia yang ini, tapi justru awal dari kehidupan di dimensi lain.

Memang, ada saja yang tidak percaya adanya dimensi kehidupan lain pasca kematian. Mereka beranggapan semua yang mati hilang begitu saja, atau kembali lagi ke dunia dengan cara dan bentuk berbeda. Tapi secara umum, kematian dianggap sebagai sebuah tapal batas. Ia membuat manusia dan semua hal di alam berhenti beraktivitas. Tak mampu lagi melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya.

Pemicu kematian bisa bermacam-macam. Walau kematian yang normal umumnya karena masalah kesehatan atau menderita penyakit, termasuk wabah. Sementara kematian tidak normal bisa karena bunuh diri atau kecelakaan. Kematian dalam perang atau pembunuhan pun bisa dikategorikan tidak normal.

Umumnya, kepercayaan non agama menganggap kematian sebagai sesuatu yang mengerikan. Bahkan agama setahu saya juga banyak yang begitu. Misalnya dengan melambangkan kematian diawali dengan dijemput oleh sang maut yang digambarkan bersosok lelaki seram berjubah tudung dan membawa sabit besar. Ia mencabut nyawa manusia dengan mengayunkan sabitnya. Gambaran ini banyak kita lihat di film-film Hollywood misalnya.

AnubisMasyarakat kuno seperti Romawi pun menggambarkan Pluto sang dewa kematian dan dunia bawah sebagai sosok mengerikan dengan tiga anjing besarnya. Anubis sang dewa kematian dan penjaga alam ruh Mesir Kuno juga tak kalah mengerikan sebagai sosok manusia berkepala anjing. Demikian pula kematian seringkali diasosiasikan dengan mayat manusia yang bisa bangkit lagi seperti zombie atau kerangkanya termasuk tengkorak.

Begitu menakutkannya kematian hingga banyak upaya memperpanjang hidup. Bahkan ilusi hidup yang lebih panjang pasca kematian juga yang menciptakan tradisi pengawetan mayat termasuk pembalseman. Ini karena mereka percaya tubuh yang diawetkan tetap “hidup”.

Bagi dunia kedokteran atau medis, dikenal istilah kematian klinis, dimana jantung sudah berhenti berdetak. Namun ada juga kematian otak, dimana fungsi tubuh masih ada, tapi otak sudah tak bekerja. Walau begitu, secara umum diketahui meski tanda-tanda kematian itu muncul, hingga kira-kira 120 menit setelah jantung berhenti bekerja, fungsi-fungsi tubuh bisa masih terdeteksi seperti darah masih mengalir sehingga suhu tubuh mayat masih hangat. Karena saya bukan dokter, saya hentikan pembahasan soal ini di sini.

Banyak masalah soal kematian ini, terutama adalah untuk menjawab pertanyaan: “apa yang terjadi setelah kematian?” Bagi mereka yang percaya Tuhan atau beragama, umumnya menganggap kematian cuma satu fase perpindahan dari satu kehidupan kepada kehidupan lain. Tentu cerita tentang apa yang terjadi di alam atau dimensi setelah kematian berbeda-beda. Hanya saja, baik bagi yang mempercayai waktu linear ataupun sirkular, dimensi pasca kematian adalah saat pembalasan terhadap apa yang kita lakukan di dunia. Bila baik maka akan mendapatkan ganjaran kenikmatan, demikian pula sebaliknya. Tapi bagi yang ateis, menganggap tidak ada apa-apa setelahnya. Hidup hanya sekarang dan karena itu harus dinikmati tanpa mempedulikan pembalasan setelahnya.

Masih ada masalah lagi karena fakta membuktikan adanya kondisi yang disebut mati suri. Inilah kematian yang secara klinis dianggap sudah terjadi, tapi ternyata yang bersangkutan kembali lagi. Artinya, nyawanya yang sudah melayang kembali lagi ke tubuhnya dan bangkit untuk hidup lagi. Namun, secara medis, umumnya ini masih dalam rentang 120 menit tadi. Walau dari pemberitaan ada yang sudah satu hari dinyatakan mati tapi kemudian hidup lagi.

Dari merekalah –selain dari penuturan orang-orang suci agama- didapatkan kisah mengenai dimensi kematian. Umumnya yang saya baca menceritakan tentang sebuah dimensi seperti gambaran kitab suci. Ada yang begitu indah, tapi justru ada yang begitu mengerikan.

Intinya, justru dari segala dimensi teoretis yang ada, justru hanya dimensi kematian yang nyata. Sayangnya, kita tetap tak tahu pasti apa yang ada di dalamnya. Selain, tentu saja, percaya pada ajaran agama masing-masing. Dengan demikian, akan berbuat sebaik mungkin dalam hidup sebelum ajal menjemput.

Ilustrasi: gwydir.demon.co.uk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s