Dimensi Waktu

Kalau kemarin saya terinspirasi dari film Inception (2010), kali ini saya justru hendak menuliskan tentang dimensi waktu yang terinspirasi dari film Source Code (2011). Film ini bercerita tentang seorang tentara Angkatan Darat Amerika Serikat bernama Captain Colter Stevens yang ditugaskan untuk kembali menelusuri waktu yang telah berlalu. Ia masuk ke dalam tubuh seorang guru SMA bernama Sean Fentress. Sang guru ini ada di dalam kereta api menuju Chicago yang diledakkan oleh teroris. Tugas Stevens adalah mencari tahu siapa yagn meletakkan bom, dan kalau bisa mencegahnya.

Cerita dalam film itu dasarkan lagi-lagi pada teorema relativitas Einstein. Menurut teorema ini, ada continuum dalam dimensi waktu yang berlangsung berkesinambungan, susul-menyusul satu sama lain. Juga ada teori kalkulus parabola dan fisika kuantum yang disinggung. Di samping itu, ada satu teori kedokteran yang menyatakan bahwa otak manusia tetap hidup sampai sekitar 8 menit setelah jantung berhenti berdetak atau lazim disebut kematian klinis. Artinya, rekaman selama delapan menit itu bisa diakses untuk mengetahui apa yang terjadi di detik-detik terakhir hidup yang bersangkutan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu mengakses pikiran manusia, sama seperti belum ada yang bisa merekam mimpi.

Dalam dimensi waktu yang misterius, kita manusia sebenarnya terjebak dalam suatu kondisi “mau tak mau”. Islam sendiri menyebut waktu sebagai “makhluk” ALLAH SWT. Artinya, ia juga ciptaan yang hidup. Dengan demikian seharusnya kita bisa menerima bila waktu kemudian mampu “menyesuaikan diri”. Sebagai contoh sederhana, bagaimana waktu terasa lama berlalu bila Anda melakukan sesuatu yang membosankan, sementara berlalu begitu cepat saat sedang bersenang-senang? Bagi Muslim, mungkin tahu ada hadits yang menyatakan bahwa Nabi pernah menahan waktu dengan cara meminta ALLAH SWT agar menunda terbenamnya matahari karena salah satu sahabat belum mendirikan shalat Ashar.  Bahkan kisah Isra’ Mi’raj yang menjadi salah satu kesaksian iman Muslim adalah salah satu contoh paling akbar dari Tuhan soal pelipatan ruang dan waktu. Yeah, waktu seperti juga ruang, bisa dilipat. Berarti waktu bisa jadi relatif. Bisa jadi Einstein benar.

Relativitas waktu juga terasa di dimensi mimpi dan dunia gaib. Andai kita percaya yang kedua, kondisinya mirip dengan mimpi. Mereka yang pergi ke “dunia lain” merasa sudah bertahun-tahun pergi, padahal di dunia kita yang ini –yang ditinggalkan- bahkan mungkin baru beberapa  saat. Ingat seri film bioskop The Chronicles of Narnia (yang diangkat dari novel karya C.S. Lewis)? Di situ dikisahkan empat bersaudara menghilang ke dunia Narnia yang berada di balik lemari baju selama bertahun-tahun. Tapi saat mereka kembali, bahkan waktu cuma berkurang beberapa detik.

Jadi, agar tidak tambah bingung dan tidak menjadi “sok ilmiah”, saya sudah dulu pembahasan soal dimensi waktu di sini. Barangkali, bagi kita yang awam, cukuplah memahami bahwa kita memang “terjebak” dalam dimensi waktu yang kita anggap realitas. Dan bahwa waktu yang sudah berlalu tak bisa kembali, karena hingga kini belum terbukti adanya waktu siklik kecuali dengan kesaksian lemah tentang reinkarnasi beberapa orang. Sehingga, mau tak mau kita harus menerima kita hidup dalam dimensi waktu linear yang bergerak lurus dan maju terus ke depan. Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu hidup kita ini. Karena setahu kita, waktu hidup kita hanya sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s