Gelas Kosong

Ternyata menjadi gelas kosong itu tidak semudah mengucapkannya. Anda yang sering menonton film, baca buku atau minimal menghadiri atau menyaksikan seminar motivasi pasti pernah mendengar analogi ini. Kalau sebuah gelas sudah penuh terisi, niscaya ia tak akan mampu lagi saat air dituangkan ke dalamnya. Isi gelas itu harus dikurangi atau malah dikosongkan agar dapat menampung air baru. Bila tidak, air yang dituangkan akan tumpah meluber percuma.

Ini serupa dengan analogi kubangan dan sungai. Air sungai akan selalu baru karena ia mengalir ke laut atau samudra. Meski ada yang berwarna kecoklatan karena tanah, namun ia lebih suci daripada air kubangan atau comberan yang teka mengalir.

Kedua macam analogi yang keduanya menggunakan air itulah yang terjadi dengan hidup kita. Air itu bisa berarti ilmu atau pengalaman. Kita tidak bisa menerima hal baru kalau diri kita penuh dengan hal-hal lama. Sewaktu saya belajar S-1 filsafat, hal ini pernah diingatkan oleh dosen. Memang, paling mudah menerima sesuatu yang baru tanpa prasangka. Karena memang ilmu dan pengalaman yang telah kita miliki justru bisa menjadi penghalang.

Mengosongkan gelas dengan meminum atau menuangkannya atau mengalirkan air sungai ke laut atau samudra berarti mengamalkan ilmu yang kita miliki. Banyak yang tidak sadar, inilah salah satu pertanyaan malaikat di dalam kubur dan di hari akhir nanti, “ilmumu, ke mana kau amalkan?” Bagi Anda yang berilmu dan tak mau membagikannya pada orang lain, niscaya akan terhalan ke surga.

Oke. Sekarang kita masih di dunia. Kalau bicara bahasa duniawi, kita harus selalu up-to-date dengan perkembangan. Sebagai contoh teknologi informasi. Dulu sewaktu SMP saya pernah kursus WordStar yang berbasis sistem operasi DOS. Coba, apa jadinya kalau sampai kini saya tetap ngotot memakai aplikasi “jadul” itu?

Itulah manfaat gelas kosong. Kita jadi mampu menerima hal-hal baru dengan lebih mudah. Walau, sekali lagi, mengutarakan atau menuliskannya jauh lebih mudah daripada melakukannya. Tapi, jelas memulai melakukannya akan lebih berguna daripada tidak melakukan apa-apa. Karena yang kedua cuma akan menyebabkan kita setara dengan comberan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s