Pengangguran & Orang Miskin vs Kelas Menengah

Menurut data dari Biro Pusat Statistik, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada bulan Agustus 2012 tercatat di angka 6,14 %. Ini menunjukkan penurunan walau tidak signfikan dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu di angka 6,56 %. Tapi harus diingat, ini adalah angka pengangguran terbuka. Biasanya angka pengangguran sebenarnya lebih tinggi dari survei, karena jelas masih ditambah pengangguran tertutup. Mereka yang masih sekolah atau bekerja pada orangtuanya termasuk di dalam kelas ini.

Sementara masih dari sumber yang sama, kita mendapati jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2012 adalah 29,13 juta orang atau 11,96 % penduduk Indonesia. Ada pengurangan sebesar 0,89 juta orang dibandingkan posisi Maret 2011 yang menyebutkan ada 30,02 juta orang penduduk miskin.

Di sisi lain, kita bergembira ria dengan parameter ekonomi makro yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 sebesar 6,3 %. Ini besar karena di Asia kita cuma kalah dari China yang melaju pesat dengan 7,5 %. Harus diingat sebenarnya saat ini ancaman resesi masih melanda dunia menyusul ambruknya bursa di Amerika Serikat dan melemahnya perekonomian Eropa. Tingginya angka pertumbuhan ekonomi ini membuat kelas menengah tumbuh sehingga memunculkan -meminjam istilah Yuswohady- apa yang disebut “Consumer 3.000”. Mereka ini adalah kelas menengah berpenghasilan rata-rata US $ 3.000 atau sekitar Rp 30 juta per tahun.

Meningkatnya kekuatan kelas menengah ini tampak jelas dari laris-manisnya aneka gadget yang dijual di sini. Juga dari tak pernah sepinya konser pemusik luar negeri yang ngamen di kota kita. Bahkan menjelang Natal, Tahun Baru atau Lebaran pusat perbelanjaan juga diserbu pembeli.

Lantas, kenapa tidak ada “trickle down effect” yang dulu digembar-gemborkan ekonom Berkeley? Saya sendiri bukan ekonom, tapi pengamatan sederhana menunjukkan besarnya penghasilan kelas menengah itu semata dihabiskan untuk konsumtif, bukan produktif. Mereka sendiri banyak yang baru saja melakukan “social climbing” dari kelas di bawahnya. Sehingga, banyak yang masih silau dengan kondisi baru tersebut. Tak heran, mereka lebih banyak memuaskan diri sendiri daripada memberdayakan orang lain.

Barangkali, yang perlu kita lakukan selain memulai dari diri sendiri agar membuat sesuatu yang produktif bagi masyarakat sekitar kita, juga melakukan penyadaran. Bergabung dengan kelompok yang memiliki visi serupa bisa jadi lagnkah awal yang bagus. Jangan sampai pengangguran dan orang miskin di Indonesia yang sudah tidak memiliki jaminan sosial malah makin terpuruk gara-gara kelas menengahnya tak peduli.

Catatan: Data statistik dikutip dari Harian Kompas (27/11) p.17.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s