Sakit & Pekerjaan

Gosh! Finally I must go to hospital. Setelah sekitar 15 tahun saya tidak ke rumah sakit (kecuali RS Mata), saya akhirnya terpaksa mengalah. Tubuh saya menjerit. Maka, saya pun terpaksa memeriksakan diri. Dan vonisnya saya harus total “bed rest” selama beberapa hari. Duh!

Ini bisa jadi karena pekerjaan yang saya jalani saat ini menguras energi terutama mental. Tekanan untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan sangat besar. Bahkan seolah saya harus bertanggungjawab atas pekerjaan terdahulu sebelum saya bekerja di situ. Di samping itu, saya sendiri terkejut karena ternyata situasinya agak “kelam”. Saya sampai harus terjun ke level operasional, padahal jabatan saya adalah level strategis. Kalaupun harus turun, semestinya paling jauh ke level teknis saja.

Sebagai contoh sederhana. Beberapa hari lalu, saya “dipaksa” oleh direktur saya untuk menjadi supirnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, saya disuruh menyupiri ke Rengasdengklok. Itu sekitar 3,5 jam dari Jakarta karena lokasinya di desa. So, pergi-pulang makan waktu 7 jam, sama dengan satu kali perjalanan ke Purwokerto, Jawa Tengah. Saya sempat diperlakukan sebagai supir oleh seorang tamu yang menumpang di mobil dinas atasan saya. Terus terang, secara pribadi saya merasa terhina. Dan mungkin perasaan itu juga yang menekan fisik saya.

Kalau tidak salah ingat, saya sudah 8 kali sakit semenjak bekerja. Ini karena ternyata tubuh saya yang menua tak lagi terbiasa bekerja fisik. Saya sendiri juga jarang berolahraga sejak tahun 2004 dimana terakhir saya memiliki keanggotaan fitness club terkemuka (gratisan, jatah kantor. Hehe).

Padahal, kalau Anda pernah kenal langsung saya, dengan tinggi tubuh 180 cm dan berat saat ini 90 kg, tentu seharusnya saya tidak gampang sakit. Apalagi saya pernah ditempa pendidikan kemiliteran sewaktu aktif di organisasi ekstra kurikuler dulu.

Cuma, saya tahu bahwa kini situasinya berbeda. Selain soal fisik, saya juga masih mengalami masalah fisis. Seperti saya berkali-kali bilang, ini seperti sakit gigi. Tidak terlihat orang lain, tapi sakitnya minta ampun bagi yang mengalami. Maka tak heran kalau saya drop berkali-kali. Salah satu sebabnya antara lain karena setiap malam saya sulit tidur. Kalaupun bisa tidur, pasti mimpi buruk. Duh Gusti…

Jadi, saya cuma bisa berharap pada Tuhan semoga Ia menguatkan saya menghadapi ujian-Nya. Saya terus-terang tidak berharap sembuh, karena saya tahu tiap detik kesakitan saya justru mengurangi dosa saya di mata-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s