Jatuh Cinta

Saya tidak mudah jatuh cinta. Sepanjang usia, saya hanya pernah benar-benar jatuh cinta dua kali (if you’re true follower of this blog, you knew their initial is AMP and YPP). Walaupun ada cukup banyak teman dekat wanita dalam hidup saya, namun saya tak pernah benar-benar mencintai mereka. Kalau dihitung, baik mereka yang pernah jadi kekasih (baca: pacar) atau sekedar teman jalan (dulu ada istilah HTS atau TTM) jelas melebihi jumlah jari di tangan dan kaki manusia normal. Bahkan di antara mereka ada yang bukan orang Indonesia (eh, tapi masih orang Bumi kok, bukan cewek Venus, hehe). Saya tidak bangga dengan itu, malah seringkali jatuh mengasihani diri sendiri. Kok bisa ya Tuhan menguji saya di sisi hidup yang ini?

Setelah pengalaman terakhir, saya menegaskan diri untuk kembali kepada sumpah yang pernah saya ikrarkan sewaktu SMA. Apa itu? Saya bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi selain kepada Tuhan saya. Demi-Nya, saya akan mengabdikan sisa hidup saya untuk kebesaran-Nya.

Sulit. Sungguh. Ini jalan sepi.

Seperti pernah saya bilang, jaring pengaman sosial saya lemah. Lingkaran kecil dalam (my little inner circle) saya nyaris tak ada. Maka, saya cuma bisa menggantungkan hidup di jaring laba-laba bernama iman.

Tuhan saya membuat perumpamaan dengan jaring laba-laba (dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabuut (29) ayat 41) untuk menggambarkan kerumitannya, tapi sekaligus juga kerapuhannya. Itulah hidup manusia. Kita berumit-rumit di dalamnya, tapi sesungguhnya ia sangat lemah. Demikian pula iman. Kita sangat sulit memahaminya, tapi ia bisa hancur seketika karena sebab-sebab duniawi.

Agar iman kita kuat, maka kita harus menjadi seperti laba-laba: merayap dan menunggu hingga mangsa datang. Merayap artinya kita harus bertiarap dan rata dengan tanah, menjadi nol. Merendahkan hati dan menolkan ego agar kita tidak terlihat oleh mangsa. Arti mangsa di sini adalah kesempatan. Sementara menunggu berarti kesabaran. Coba lihat, laba-laba mana yang grasa-grusu saat mangsa datang ke jaringnya?

Jatuh cinta kepada Tuhan berarti “tahu diri” bahwa kita bukan apa-apa. Nol. Jatuh cinta kepada Tuhan juga berarti sabar. Karena kita sungguh tak tahu apa rencana Tuhan di balik semua yang ktia alami. Justru bila kita makin dicintai Tuhan, maka kita makin banyak diuji oleh-Nya. Semoga Ia yang saya cintai menguatkan saya untuk melewati semua “ujian cinta”-Nya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s