Butet…

4 Februari 2006. Saya yang ketika itu masih bersahabat dengan pasangan saya menyaksikan pentas monolog Butet Kartaredjasa di Taman Ismail Marzuki. Kami tidak pergi berdua, melainkan justru bertiga dengan seseorang yang saya panggil “Dik Cyn”. Tujuannya? Apalagi kalau bukan hendak menjodohkan saya dengan “Dik Cyn” itu. Jadi, wanita yang kemudian menjadi pasangan saya tersebut ketika itu justru hendak menjodohkan saya dengan orang lain. Ironisnya, dalam pentas monolog berjudul “Matinya Tukang Kritik” itu, “Dik Cyn” sama sekali tidak tertawa sedikit pun. Padahal, Butet itu lucunya “pol”.

Saat itu saya baru tahu bahwa yang membuat kita tertawa itu bukannya humor atau lawakan, tapi “pikiran ingin tertawa”. Tak salah kalau para motivator seperti Rhonda Byrne yang menulis The Secret sampai menekankan pentingnya “pengendalian pikiran”. Coba saja deh, kalau Anda sedang Be-Te, menonton OVJ pun rasanya nggak mood.

Back to the topic, menyaksikan Butet di tahun 2006 itu menyadarkan saya dan “beliau” bahwa kami 90 % punya kesamaan. Dan dengan besar hati “Dik Cyn” justru mengatakan agar kami saja yang berjodoh. Tak lama kemudian, kalau tidak salah ingat 5 bulan kemudian, “Dik Cyn” memutuskan menikah. Dengan orang lain tentu, bukan dengan saya. Hehe.

Nah, kemarin malam, saya mencoba move on. Saya mencoba mengalahkan memori saya tentang Butet. Tentu bukan langsung dengan Butet himself, tapi pertunjukannya. Memori tahun 2006 yang saya simpan rapat harus saya bongkar. Kalau tidak, saya tidak akan bisa melangkah ke depan. Maka, saya memutuskan untuk menonton pertunjukan Butet yang kali ini bukan monolog melainkan berformat semi teater berjudul “Nyonya-nyonya Istana”. (resensinya ditunggu ya… website-nya masih dalam perbaikan).

Terus-terang saya tiba-tiba sudah dibelikan tiket dan saya kaget karena di siang harinya saya masih bekerja. Akhirnya dengan dalih dalam hati hendak mencoba kamera baru tapi lama (thank’s to Iman), saya memutuskan menontonnya. Efeknya? Alhamdulillah saya bisa tertawa ngakak. Walau di sela-selanya masih tercenung, mengingat di tahun 2006 saya ngakak bersama seorang yang hingga kini masih saya cintai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s