Pahlawan Itu Siapa Sih, Ma?

Di kala planet Bumi ini mencapai zaman utopia, dimana sudah tak ada lagi perang, apakah kosakata “pahlawan” masih dikenal? Mungkin masih, tapi beda konotasinya. Kita tahu, di masa sekarang sebagian besar pahlawan adalah mereka yang bertempur di medan perang. Para jenderal, pemimpin pasukan, raja atau panglima. Ada juga beberapa prajurit biasa namun gagah berani sehingga melegenda.

Patung Cochrane.

Saya lantas teringat pada salah satu episode Star Trek bioskop yang berjudul “The First Contact”. Di situ justru pahlawan Bumi paling hebat adalah penemu teknologi warp yang bisa melejitkan pesawat luar angkasa di kecepatan melebihi cahaya. Dia adalah Dr. Zefram Cochrane yang menemukannya pada 2063 dengan meluncurkan roket eksperimen buatannya bernama Phoenix tepat saat pesawat alien dari Vulcan melintas di orbit bumi. Kejadian itu membuat planet kita kemudian dapat berinteraksi dengan makhluk planet lain di jagat raya ini karena dianggap tak lagi primitif dan setara. Di masa depannya lagi, Cochrane dibuatkan patung yang megah dengan gaya dirinya yang visioner. Padahal, aslinya kehidupan sang pahlawan sangat santai ala gypsy.

Dalam mempahlawankan seseorang, memang selalu terjadi pemitosan. Hal-hal yang jarang dimiliki orang lain ditonjolkan, hal-hal biasa dibesar-besarkan, sementara kelemahannya cenderung ditutupi. Hal-hal demikian terjadi di setiap masa dan negara.

Namun, ada yang sama dari setiap pahlawan. Mereka melakukan tindakannya bukan karena “rasa kepahlawanan”, melainkan karena tanggung-jawab dan panggilan alam secara pribadi. Mereka merasa harus melakukannya karena memang harus. Istilahnya, mereka merasa, “kalau bukan saya, siapa lagi?” Mereka tak memikirkan resiko atau imbalan saat melakukannya. Bahkan ketika orang lain mengenali dan mengingat jasanya, mereka seringkali malah bingung. Miriplah dengan Forrest Gump yang bingung ketika diberikan penghargaan tertinggi bagi prajurit A.S. “Congressional Medal of Honour” oleh Presiden Kennedy.

Maka, ketika Presiden kita diberikan gelar kebangsawanan dari kerajaan Inggris berupa “Knight Grand Cross in the Order of the Bath” yang diberikan langsung oleh Ratu Elizabeth II pada hari Rabu (31/10) lalu, buat saya itu sebuah kebanggaan bagi bangsa ini. Juga ketika akhirnya Soekarno-Hatta dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional” pada Rabu (7/11) lalu oleh Presiden SBY, saya pun tetap bangga walau saya merasa itu tak lagi perlu. Toh kedua beliau jelas pendiri bangsa kita dan semua tahu tanpa gelar “pahlawan nasional” pun mereka sudah pahlawan.

Satu yang jelas, tindakan kepahlawanan tak selalu mendapatkan pengakuan, bahkan sekedar pujian. Banyak yang melakukannya tanpa dilihat siapa pun. Tindakan kecil yang mendapatkan pahala besar -seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam hadits shahihnya- seperti tersenyum kepada orang lain atau menyingkirkan halangan di jalan jelas tak akan mendapatkan perhatian. Tapi percayalah, hanya pahlawan yang mampu melakukan itu.

So, kalau kelak anak Anda bertanya, siapakah pahlawan itu… jawablah, “it’s within you, if you do the best thing in your life especially for the humanity”. Got it?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s