Mario Teguh: Antara Motivasi & Cinta

Saya termasuk manusia yang senang belajar. Salah satu cara belajar yang sekarang “ngetren” adalah menghadiri atau mendengarkan seminar motivasi.

Saya berusaha memisahkan antara “siapa yang bicara” dan “apa yang dibicarakan”. Kalau yang dibicarakan bagus, saya coba ambil sebagai pelajaran. Walau secara pribadi, saya terkadang kurang menyukai sang pembicara.

Artinya, kalau saya beberapa kali mengangkat tema tulisan tentang Mario Teguh misalnya, bukan berarti saya mengidolakan dia, tapi lebih kepada apa yang sedang dibicarakannya saya rasa bermanfaat. Ini berbeda dengan seorang teman baru yang saya temui dalam pekerjaan. Ia sulit sekali mengapresiasi isi ceramah -sebutlah begitu- dari sang motivator karena kurang menyukai si pembicara secara pribadi. Sehingga saat suatu kali berkesempatan bekerjasama dengannya dalam suatu event, yang bersangkutan merasa tidak termotivasi.

Sebenarnya dalam pencerapan suatu ilmu atau pengetahuan, manusia punya apa yang disebut “mental block”. Makin kita mampu meruntuhkan tembok itu, makin mudah kita menyerap hal-hal baru. Inilah yang sering dianalogikan dengan gelas dan isinya. Kalau kita hendak memasukkan air ke dalam gelas, maka gelas itu sebaiknya dikosongkan dulu. Kalau tidak, akan terjadi “penolakan” berupa air yang meluber ke luar gelas. Itulah pula ada anjuran untuk selalu menyebarkan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Karena dengan begitu seolah kita menuangkan air yang dari gelas ke gelas kosong orang lain.

Kembali ke soal Mario Teguh, saya melihat akhir-akhir ini di televisi ia lebih banyak menekankan motivasinya pada persoalan cinta. Itu pun cintanya dipersempit menjadi hubungan kekasih antara dua lawan jenis. Bisa jadi, itu adalah “permintaan pasar”, sehingga Mario Teguh memilih untuk “ciyus” memotivasi mereka yang sedang “galau”.

Bagi saya pribadi, selalu ada sisi yang bisa diambil dari situ. Seringkali saya membaca atau mendengar kritikan kepada Mario Teguh terutama isi ceramahnya. Namun bagi saya, itu perkara kita sendiri sebagai pendengarnya. Kalau kita “open mind”, akan mudah menerima apa yang dikatakannya. Nah, kalau sedang tak ingin digurui (saya juga sering begitu), pindah saluran saja. Atau sekalian tidak usah disetel TV-nya. Mudah kan? Buat apa repot-repot mencerca orang lain padahal kita sendiri belum tentu lebih baik darinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s