Pemberontakan

Kemarin saya lupa, bahwa dalam pengalaman organisasi, saya pernah pula menghadapi “pemberontakan”. Jadi, bukan sekedar “pembangkangan”. Dan waktu itu saya terpaksa mengalah demi keselamatan diri sendiri dan keluarga, karena saya melihat ada ancaman dari mereka yang melawan saya. Akibatnya, saya terpaksa mengundurkan diri dari satu jabatan ketua umum sebuah organisasi.

Lupanya saya ini sebuah berkah sebenarnya. Karena berarti saya sudah bisa menganggap kejadian itu biasa saja. Padahal, saya perlu empat tahun untuk menyembuhkan lukanya (my beloved AMP, you’re the witness of this case). Sakit sekali rasanya dikhianati oleh orang-orang yang justru ingin saya selamatkan. Tak terbayang bagaimana sakitnya Soekarno dan Soeharto saat digulingkan dari kekuasaannya.

Bagi seorang leader, saat menghadapi pemberontakan, cuma ada dua pilihan: melawan atau menyerah.

Memang sulit kondisi itu. Seperti memakan buah simalakama saja. Ada saatnya kita harus melawan, tapi di saat lain saat keadaan tak memungkinkan, memang harus menyerah. Apalagi kalau menyerah cuma berarti kita harus mencari jalan lain dalam hidup. Tapi bila menyerah berarti mati, saya sih memilih melawan sampai titik darah penghabisan.

Di saat terjadi pemberontakan, seorang leader harus mampu memetakan situasi. Ini termasuk pula menghitung peluang untuk menang bila melawan dan exit strategy bila harus menyerah. Satu yang terpenting adalah memilih orang kepercayaan yang Anda sangat tahu tak akan ikut-ikutan mengkhianati Anda.

Pengalaman saya di tahun 1998 itu mengajarkan, bahwa saat terjadi pemberontakan, pengikut atau anak buah Anda bisa dikategorikan menjadi:

  1. Loyalis. Mereka tetap loyal pada Anda apa pun yang terjadi. Ibaratnya, mereka siap mati bersama Anda atau gugur saat membela Anda.
  2. Pembelot. Mereka tadinya setia, tapi begitu melihat keadaan tidak menguntungkan, mereka berbalik. Munafik.
  3. Pemberontak. Mereka jelas musuh Anda. Tapi ingat, mereka pun bisa berbalik. Kalau kita mampu meyakinkan bahwa mereka keliru berpihak, mereka malah bisa jadi loyalis.

So, bagi leader di mana pun, saran saya, perlakukan situasi hidup sebagai medan peperangan ala Sun Tzu. Selalu waspada dan jangan lengah! Pemberontakan bisa terjadi kapan saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s