Manis-Pahitnya Menjadi Konsultan

Sudah lima tahun saya menjadi konsultan. Memang tidak segampang yang dikira. Banyak kepahitan yang saya hadapi, termasuk justru penikaman dari belakang oleh orang yang paling saya percayai. Tapi untunglah yang bersangkutan menyadari dan mampu memilah masalah pribadi dengan bisnis.

Menjadi konsultan itu seperti seorang suhu. Perusahaan yang bersedia menjadi client menganggap kita serba tahu. Selain itu juga sekaligus bak kakak atau teman curhat. Karena berbagai problematika akan dikemukakan. Dan kita diharapkan tahu solusinya. Tentu beda dengan sekedar curhat, karena solusi yang ditawarkan berupa sistem. Dokumentasinya bisa lebih tebal dari kamus, dan sistem informasinya pun dibuat khusus.

Saya sendiri justru tidak sehebat itu. Karena itu kini saya memutuskan untuk kembali “belajar” setelah selama beberapa tahun “merasa cukup”. Sikap ini sangat salah. Karena justru sebagai konsultan harus belajar tiap hari. Malah, seorang leader di tempat kerja saya yang baru menyatakan sepulangnya dari Johannesburg-Afrika Selatan untuk mengikuti certification course, pengajarnya menantang setiap peserta untuk membaca satu buku setiap hari!

Saat ini, selain bekerja kembali di sebuah perusahaan milik seorang motivator berpendapatan terbesar di Indonesia, saya juga bekerja sampingan pada sebuah konsultan milik seorang senior. Tentu saja selain berupaya mempertahankan jalannya perusahaan saya yang sudah lima tahun berdiri, meski pengelolaannya kini saya lakukan secara “remote” dan saya percayakan pada sejumlah sahabat.

Saya merasa perlu “belajar” lagi karena perkembangan usaha konsultan saya stagnan. Apalagi setelah saya kehilangan partner sekaligus pasangan saya, jalannya perusahaan sangat-sangat goyang. Itulah antara lain penyebab saya menghilang dari blog ini dua-tiga bulan terakhir. Saya harus menyelamatkan dua hal penting: kehidupan pribadi dan bisnis saya.

Dengan belajar lagi, selain mendapatkan ilmu, juga jaringan dan teman baru. Dua bulan bekerja saja, challenge yang saya hadapi luar biasa. Alhamdulillah-nya perusahaan pun memberikan compensation & benefit yang tidak jelek. Sehingga saya pun bekerja dengan semangat. Bedanya, saat bekerja saya harus belajar disiplin ala “anak sekolahan” lagi. Datang pagi-pagi. Satu kemewahan yang saya nikmati selama lima tahun belakangan, yaitu tidur lagi usai Shubuh sulit dilakukan lagi. Hehe.

Menjadi konsultan juga berarti harus mampu mendengarkan dan mengarahkan orang lain. Memahami karakter dan mengendalikan diri adalah suatu keharusan. Kita bak dokter, psikolog, dan insinyur sekaligus. Seringkali client bicara bahasa teknis di dunia mereka, misalnya pertambangan. Dan saya sebagai konsultan harus mampu memahaminya. Karena sebagai konsultan, saya dianggap lebih pintar daripada mereka. Namun, di sisi lain sifat humble dan rendah hati juga harus dijaga. Tanpa itu jelas client akan lari. Proporsional lah…

Personal brand sangat penting sebagai konsultan, apalagi kalau kita punya perusahaan. Karena client biasanya maunya bertemu dengan pimpinan tertinggi dari pihak konsultan. Apalagi kalau dari pihak client yang turun juga pimpinannya. Saya pernah mengalami orang kedua saya di perusahaan -yaitu partner dan pasangan saya tadi- ditolak oleh pimpinan perusahaan client. Tetap saya yang diminta datang. Padahal lokasi perusahaan client di luar kota dan jelas saya belum punya helikopter atau pesawat jet pribadi. Maka, jadilah saya dengan terpaksa menyusul dan membuat mereka menunggu saya dan keberangkatan partner saya seolah sia-sia.

Di sinilah saya agak kurang dalam me-maintainance personal brand dan corporate image. Untuk itulah saya merasa perlu belajar pada konsultan senior yang sudah sepuluh-dua puluh tahun berkecimpung lebih dulu di dunia konsultansi. Karena ketrampilan hidup seperti itu tak bisa diajarkan, hanya bisa dialami melalui pengalaman jatuh-bangun yang seringkali terasa begitu pahit. Tapi saya percaya Tuhan punya rencana manis di baliknya. Insya ALLAH...

One response to “Manis-Pahitnya Menjadi Konsultan

  1. Ping-balik: Konsultan? Binatang Apaan Tuh? | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s