Bentrokan Mahasiswa-Polisi di Universitas Pamulang

Siang tadi, saya bertugas dalam sebuah acara kerjasama kantor saya dengan pihak ketiga dan sebuah kampus. Dan kampus itu adalah Universitas Pamulang.

Kalau Anda melihat berita televisi, tentu tahu bahwa acara seminar tersebut berubah menjadi kerusuhan. Dalam acara yang menghadirkan Wakil Kepala Polri Komjen Pol. Nanan Sukarna tersebut, justru terjadi penolakan terhadap sang nara sumber. Padahal, beliau hadir justru karena diundang kampus untuk memperkenalkan paradigm Polri yang baru. Menurutnya, sejak reformasi Polri pun memperbaiki diri untuk tidak mengedepankan tindak kekerasan. Ironisnya, saat beliau bicara begitu di ruang sidang, justru di luar kampus polisi bentrok dengan mahasiswa.

Akibatnya, acara dihentikan di tengah jalan. Bahkan Wakapolri terpaksa dilarikan keluar kampus dengan mobil sipil dari belakang kampus. Saya ikut membukakan jalan bagi Wakapolri untuk bisa keluar dari kampus yang cukup besar itu.

Apa yang tidak diketahui orang lain dan syukurnya tidak tampak dalam pemberitaan adalah acara itu terselenggara berkat kerjasama Unpam, Mabes Polri dan dua pihak lain: kantor saya dan sponsor. Ada satu media yaitu IndoPos yang memuat spanduk sponsor di depan kampus yang terkulai robek. Tapi tak ada satu pun berita baik di media cetak, internet maupun televisi yang memuat nama sponsor dan kantor saya.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

Karena kalau itu terjadi, bisa-bisa saya kena teguran resmi. Hehehe.

Dalam acara ini sebagai pihak yang memfasilitasi sponsor, posisi saya berada di tengah. Sayangnya, menurut saya pihak kampus agak terlalu menganggap remeh. Saya sudah memperingatkan kemungkinan demonstrasi, tapi tidak digubris. Bahkan, saat Wakapolri dihadang oleh mahasiswa saya yang meminta Rektor turun untuk menjemputnya. Saat jenderal bintang tiga itu didorong oleh mahasiswa demonstran dan nyaris jatuh, saya berupaya membentenginya dengan menghadangkan badan saya tepat di depan beliau. Saat itu di sekeliling beliau hanya ada para perwira yang tidak dalam posisi anti huru-hara, maka justru anak buahnya tak siap melindungi komandannya. Dan beliau sangat ngeh pada tindakan berani saya itu.

Dan sebagai balasannya, Wakapolri dalam pemaparannya di panggung menyebutkan nama kantor saya sebagai lembaga yang bekerjasama dengan Polri, seraya melirik kepada saya. Padahal itu sama sekali tidak ada di slide presentasinya. Sekali lagi alhamdulillah.

Apa yang terjadi hari ini mengingatkan saya kembali saat bertugas sebagai jurnalis lapangan. Dan saya pun mengirim sms kepada mantan cinta pertama saya (tapi bukan pacar pertama lhoo…) yang seorang jurnalis. Walau ia tak menjawab, saya tahu ia selalu memantau saya terutama lewat internet.  Ini karena kami tahu masih saling mencintai walau tak bersatu lagi. ehm…

Pengalaman seru hari ini membuat saya sadar pada beberapa hal. Tapi yang terutama adalah saya makin tua. Terbukti dari kelelahan yang amat sangat sampai-sampai kaki saya kram. Hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s