Bad News is Good News?

Membaca media cetak hari ini, tampak masih terpukau pada euforia terpilih dan dilantiknya Jokowi kemarin. Bahkan media elektronik terutama televisi pun masih ramai memberitakannya. Bisa jadi karena ini merupakan satu “oase kabar baik” di tengah maraknya “kabar buruk” di negeri kita. Memang, ada adagium di jurnalisme bahwa “bad news is good news”. Kalau ada pusat perbelanjaan dibangun itu biasa. Tapi kalau pusat perbelanjaannya ambruk, itu baru berita.

Karena itu, kepopuleran Jokowi di media sehingga disebut “media darling” merupakan anomali. Fenomenanya mirip Obama di Amerika Serikat. Tanpa diminta, media dengan sukarela memberitakan sepak-terjang sang “newsmaker”. Padahal, biasanya dalam momentum kampanye, seorang kandidat sampai harus mengeluarkan dana super-besar agar mendapatkan “media coverage” memadai.

Memang, momentum seperti Jokowi dan Obama sangat langka dalam jurnalisme. Bahkan, fenomena ini juga sempat dialami oleh Partai Demokrat di Indonesia pada Pemilu 2009 dan PDI Pro-Mega yang kemudian bermetamorfosis menjadi PDI Perjuangan pada Pemilu 1999.

Namun media juga kejam. Obama yang sempat menjadi “media darling” dalam Pemilu Presiden AS 2009 kini harus menghadapi situasi sulit. Selain karena beberapa kebijakannya kurang populer, ekspektasi rakyat juga terlalu besar. Sehingga tak heran menghadapi Pemilu mendatang, tingkat elektabilitasnya masih rendah. Di Indonesia juga begitu. SBY bersama Partai Demokrat-nya yang diharapkan membawa perubahan pada Pemilu 2004, ternyata malah terpuruk dalam lingkaran ketidakberdayaan politik.

Dalam survei oleh Lembaga Survei Nasional pada 10-24 September 2012 di 33 provinsi dengan sampel 1.230 responden, sebanyak 51,4 persen responden menjawab bahwa Parta Demokrat tercitrakan sebagai partai dengan kader terbanyak melakukan korupsi. Ini artinya “bad news” bagi partai penguasa itu. Demikian juga berbagai skandal dalam tubuh pemerintahan SBY-Budiono. Dan media toh melahapnya sebagai “good news”. Sampai-sampai Sekertaris Kabinet Dipo Alam pernah marah dan mengancam memboikot media. Padahal, yang diberitakan adalah fakta.

Jadi, memang sulit memenangkan hati media. Dan itulah yang berhasil dilakukan Jokowi. Semoga saja ia mampu mempertahankannya hingga akhir masa jabatannya. Jangan sampai seperti SBY yang justru jadi bulan-bulanan media di kemudian hari…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s