Pidato Michelle Obama

Setelah kemarin membandingkan sepintas antara Indonesia dengan Amerika Serikat karena kedatangan Hillary Clinton ke Indonesia, kali ini saya ingin mengetengahkan mengenai pidato Michelle Obama yang dipuji di banyak media massa. Bahkan di masa Twitter ramai pembicaraan mengenai suara Partai Demokrat naik setelah diadakan konvensi. Tapi… itu Partai Demokrat yang di A.S., bukan yang di Indonesia.

Apa sebabnya?

Michelle Obama saat berbicara di depan Konvensi Partai Demokrat A.S. (Foto: Alex Wong/Getty Images)

Karena dalam Democratic National Convention yang diadakan di Charlotte, N.C., pada hari Selasa, 4 September 2012 lalu. Ibu Negara A.S. tampil membawakan pidato yang sangat memukau dan jadi pemberitaan di media arus utama dunia. Michelle Obama mampu membuat para peserta konvensi berdecak kagum. Ditambah pidato dari Bill Clinton yang sangat memuji Obama, peserta konvensi sepakat mengusung kembali Sang Presiden sebagai kandidat di Pemilu mendatang.

Apa yang dipidatokan Michelle bukan suatu hal luar biasa. Bukan pidato penuh data, fakta dan angka. Bukan pidato yang membanggakan diri sebagai pribadi penuh prestasi. Juga tidak menyanjung suaminya setinggi langit. Namun, justru pidatonya penuh kejujuran dan kepolosan manusia biasa. Ia berkali-kali menegaskan bahwa dirinya, suaminya, anak-anaknya dan keluarganya hanya manusia biasa. Namun, mereka merupakan orang yang berjuang demi kehidupan yang lebih baik dalam nuansa penuh cinta.

You see, Barack and I were both raised by families who didn’t have much in the way of money or material possessions but who had given us something far more valuable – their unconditional love, their unflinching sacrifice, and the chance to go places they had never imagined for themselves.

Dalam kutipan di atas misalnya ia mengatakan dirinya dan Barack suaminya dibesarkan dalam keluarga yang tidak punya uang berlebihan, namun mampu memberikan mereka sesuatu yang lebih berharga: cinta tanpa syarat, pengorbanan tanpa menuntut balasan, dan kesempatan untuk menuju ke tempat luar biasa yang justru tak terbayangkan oleh mereka. Dari keluarga seperti itulah akhirnya lahir pasangan suami-istri yang memimpin negara adidaya. Pasangan suami-istri yang begitu menginspirasi rakyatnya, bahkan warga negara lain.

Akankah hal itu terjadi di Indonesia? Saat ini mungkin belum. Suatu saat mungkin akan muncul pemimpin seperti itu. Pemimpin yang manusia, yang tidak menganggap dirinya “dewa”, namun justru “didewakan” oleh banyak orang. Di tangan pemimpin seperti itulah kelak Indonesia akan mencapai kejayaannya.

Insya ALLAH…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s