Antara Sakit Fisik dan Mental

Kalau Anda bekerja sebagai pegawai dengan jam kantor tetap di kota besar, sementara Anda tinggal bersama keluarga di luar kota tempat Anda bekerja (atau di pinggir kota), niscaya akan mengalami hari-hari yang melelahkan. Anda yang bekerja di kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang atau Surabaya niscaya mengalami hari-hari seperti ini. Tentu saja kualitas kelelahan tertinggi ada di Jakarta.

Namun, kelelahan secara fisik relatif mudah diatasi apabila kita tidak lelah secara mental. Sebaliknya, kelelahan mental dapat menggerogoti kesehatan fisik yang sebenarnya tidak apa-apa. Itulah mengapa penyakit psikologis lebih berat daripada penyakit fisik. Semua dokter dan ahli kesehatan, apalagi ahli jiwa dan psikolog tahu, kalau seseorang berniat sembuh dari penyakit fisiknya, ia akan lebih cepat mengalami pemulihan. Artinya, berpikir positif akan sangat baik bagi kesehatan, baik fisis maupun fisik.

Kelelahan mental dapat berujung pada “sakit jiwa”. Dan itu tidak bisa dianggap remeh. Orang yang menganggap bahwa “sakit jiwa” itu ringan, pasti tidak merasa pernah sakit jiwa. Hingga kini, obat “sakit jiwa” dalam kadar terparah yang dinamai schizophrenia belum ditemukan. Yang ada hanya obat pengurang efeknya saja, seperti obat penenang. Dan tingkat kesembuhan penderita “sakit jiwa” pun sangat kecil. Bahkan, penyakit fisik mematikan seperti kanker atau jantung saja masih lebih tinggi tingkat kesembuhannya.

Satu lagi yang tidak disadari 99,99 % orang di dunia adalah, bahwa 100 % orang di dunia “sakit jiwa”. Apa yang membedakan hanyalah jenis penyakitnya dan tingkat keparahannya. Sebagai contoh konkret, takut adalah bagian dari “sakit jiwa”. Karena umumnya ketakutan tak berdasar hingga menjadi “phobia”. Tinggal takut pada apa dan berapa persentasenya saja.

Para psikolog dan ahli kedokteran jiwa (psikiater) ternama telah sejak 1952 berupaya menyusun suatu standar acuan terhadap aneka jenis penyakit jiwa. Dan ternyata, ada ratusan jenisnya! Hal itu terangkum dalam sebuah buku panduan setebal lebih dari 2.000 halaman berjudul Diagnostic & Statistical Manual for Mental Disorders (DSM) yang kini sudah mencapai edisi IV-TR (edisi IV dengan revisi teks) yang terbit terakhir tahun 2000. DSM V direncanakan akan terbit tahun depan. Buku yang disusun oleh puluhan ahli jiwa anggota American Psychiatric Association itu memuat bukan saja definisi dan diagnosa, namun juga cara penanganan terutama terapi dengan obat. Maklum, penyusunnya adalah para dokter ahli jiwa.

Maka, ketika di harian Kompas hari ini di kolom profil (p. 32) terdapat tulisan bahwa dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ membuat konsultasi kesehatan jiwa gratis, saya pun tergerak untuk mencolek (mention) beliau di Twitter. Dan simpatiknya, beliau membalas dengan memberitahukan lokasi klinik ada di kantor DPP Partai Demokrat. Ini merupakan satu sumbangsih nyata agar masyarakat kita yang sebenarnya tengah “sakit” sadar bahwa “sadar kesehatan jiwa” sangat penting. Saya sering sekali diremehkan oleh orang yang bukan ahlinya saat membahas soal ini. Mereka menganggap sakit jiwa itu remeh. Padahal, justru sikap seperti ini adalah satu penyakit jiwa juga. Namanya Megalomania atau Waham Kebesaran. Dia merasa dirinya lebih besar daripada seharusnya. Padahal, tidak ada penyakit yang remeh karena ia membuat penderitanya tersiksa. Dan tentu ia harus ditolong dan diobati, bukan malah dilecehkan.

 

One response to “Antara Sakit Fisik dan Mental

  1. Ping-balik: Keterpecahan Pribadi « LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s